Hari ini, tepat di hari Jum'at siang. Di mana, biasanya setelah pulang melaksanakan sholat Jum'at, anak-anak organisasi kembali ke sekolah untuk urusan organisasi mereka. Tak terkecuali, Kahfi. Cowok itu menenteng tas hitam sekolahnya bersama Nando, Riko, dan Arib. Tiga temannya masih berbincang soal keributan yang terjadi antara anak Cakrawala dengan anak SMA Bina Bangsa beberapa waktu lalu. Penyebabnya memang salah satu anak SMA Cakrawala yang memancing keributan lebih dulu. Tapi Kahfi, tidak tertarik untuk ikut membicarakan masalah itu.
Mereka bertiga lantas duduk di pinggir lapangan itu sembari menatap langit siang yang bersih. Riko yang semula duduk mengubah posisinya menjadi telentang dengan tangan yang menadah kepalanya.
"Kalau saya pergi siang ini, kalian gimana?"
Pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari bibir Kahfi membuat atensi teman-temannya teralih. "Kok lo ngomong gitu?" tanya Nando.
"Ya, takutnya jadwal kepindahan saya diubah tiba-tiba kan?" kekeh Kahfi.
"Ngomong tuh sekata-kata lo!" omel Riko.
"Ya nggak mungkin lah, Fi! Masa iya jadwal kepindahan lo tiba-tiba diubah dadakan?" timpal Arib.
"Gue bakalan protes sih, kalau misalnya lo dipindahin tiba-tiba!" kata Nando dengan nada sedikit tegas.
Kahfi menatap Riko, Nando, dan Arib bergantian. "Makasih ya, udah mau jadi temen saya! Mungkin, kalau saya disuruh memilih sekali lagi, dan ditanya soal pertemanan. Saya akan tetap memilih ketemu dan jadi temen kalian,"
"Gue juga! Golden part dalam hidup gue kayaknya adalah ketemu kalian salah satunya!" timpal Riko.
"Yoi! Makanya, sahabatan yang lama kita!" kata Arib sembari merangkul mereka semua.
"Saya juga maunya seperti itu. Semoga Allah izinkan ya?"
Sementara itu, Cahaya yang menatap mereka semua dari kejauhan, sembari duduk di tepian, merasa ada yang janggal dengan semuanya. Kenapa hatinya seakan terasa berat?
Namun, tak lama Kahfi datang menghampirinya. "Ya,"
Cahaya tersenyum mendapati cowok itu yang sekarang berada di dekatnya. "Fi,"
"Oh ya, aku mau ngomong sama kamu."
Alis Cahaya mengernyit. "Ngomong apa?"
Kahfi menghela nafasnya perlahan. "Aku mau bilang makasih karena kamu udah mau temenan sama aku!"
Cahaya menganggukkan kepalanya pelan. "Aku juga seneng bisa jadi—teman kamu."
Kahfi tersenyum simpul. Topik pembicaraan Kahfi terkesan menyentil hati Cahaya. "Kenapa tiba-tiba ngomongin itu, Fi?"
"Nggak papa, Ya." Kahfi menghela nafasnya sejenak. "Aku pikir aku nggak akan bisa punya teman-teman sebaik kalian. Tapi aku bersyukur Allah kasih kalian untuk jadi teman aku. Dengan segala keterbatasan yang aku punya,"
"Keterbatasan apa? Kamu sama kok sama yang lain. Apa yang terjadi sama kamu selama ini juga bukan kemauan kamu."
"Aku sering repotin kalian, Ya."
"Itu bukan masalah, Fi. Kita peduli sama kamu karena kamu juga udah kita anggap keluarga." timpal Cahaya lagi.
Cahaya terdiam sesaat. "Soal kepindahan kamu, apa kamu bakalan terus menetap di sana?"
Kahfi tak langsung menjawab. Jika boleh, ia juga enggan kembali meninggalkan tempat ini. Di sini, ia menemukan rumah yang sesungguhnya. Keluarga yang sebenarnya. Tapi, ini sudah menjadi keputusannya. Mungkin, ia hanya ingin menemui Ibunya untuk memberikan bucket bunga terakhir kalinya. Sebelum ia pindah.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKIT
SpiritualeSpiritual-Teenfiction Ini tentang abu-abu yang dihampiri warna pelangi. Dan juga luka yang membalut dirinya sendiri, bersama setiap doa yang ia panjatkan kepada-Nya. ⚠️BUAT DIBACA BUKAN DIPLAGIAT.⚠️ Rank 🏅 3 in Rakit Rank 🏅 15 in Kahfi Rank 🏅 7...
