"Setelah ini, hamba pasrahkan semuanya kepada-Mu. Atas apapun yang akan terjadi dalam hidup hamba, hamba ikhlas."
—Rakit—
***
"Lo serius?" tanya Cahaya yang nampak kaget setelah mendengar pernyataan dari Riko.
"Gue serius, Ya. Baru aja gue denger obrolannya Kahfi sama Pak Hidayat. Padahal, gue baru sebentar kenal sama Kahfi." ucap Riko sedikit sendu.
Sambil menggendong tas di punggungnya, Cahaya segera mencari Pak Hidayat dan Kahfi. Ia mencoba mencari mereka ke ruang guru, tapi mereka tidak ada di sana. Cahaya segera beralih mencari mereka berdua ke tempat lain. Sampai akhirnya, Cahaya menemukan Kahfi yang tengah mengobrol berdua dengan Nando. Gadis itu tak lantas menemui mereka. Ia memilih bersembunyi dibalik tembok untuk mendengarkan percakapan mereka.
"Kenapa lo harus pindah lagi, Fi?"
Kahfi mengalihkan pandangannya sejenak. "Ada hal yang nggak bisa saya ceritain ke kalian semua, Do."
Nando menghela nafasnya berat. "Jujur, Fi. Gue sedih lo mau pindah,"
Kahfi menatap Nando. "Gue sadar, selama gue ngerasa malas, stuck, dan capek jadi Ketua OSIS. Lo jadi salah satu garda terdepan yang selalu nasehatin gue, dukung gue. Makanya gue, sedih sih." ungkap Nando menahan kesedihannya sendiri.
Kahfi tersenyum getir. "Padahal harusnya gue nggak usah sesedih ini ya? Kita kan bakalan ketemu lagi nanti!"
Kahfi terdiam seketika. Ia teringat sesuatu yang tadi pagi baru saja ia bicarakan pada Pak Hidayat.
"Pak, kita pindah dan—boleh nggak Kahfi minta sesuatu lagi?"
"Apa, Nak?"
"Kemoterapinya berhenti ya, Pak?" pinta Kahfi dengan tatapan sendunya.
Pak Hidayat terdiam seketika. Dalam hatinya ia menggerutu, permintaan macam apa ini?
"Kenapa?" tanyanya datar.
"Pak, Bapak tau kan, bahwa seseorang yang terkena leukemia, cenderung punya presentase kesembuhan yang kecil."
"Lantas apa kamu bisa menjadikan itu alasan untuk menyerah? Berhenti berobat?"
Kahfi menggeleng pelan. "Itu namanya kamu pasrah!"
"Pak, bukannya saya cuma pasrah—"
"Terus apa?"
"Pak tolong dengarkan saya dulu!" Pak Hidayat mencoba mendengarkan lebih dulu Kahfi. "Segala usaha sudah kita usahakan, Pak! Bapak dengar sendiri, penjelasan terakhir Dokter mengenai kondisi saya. Dengan segala usaha yang sudah kita lakukan, bukannya setelah usaha dan berdo'a, selanjutnya kita serahkan itu pada Allah?"
Kahfi menatap Pak Hidayat dalam. "Niatan saya ke Bandung untuk mencari Ibu. Sekarang saya sudah tau, siapa Ibu saya. Siapa Ayah saya. Jadi, saya mau berhenti berobat ya, Pak? Saya juga mau—saya pindah lagi ke Bogor."
Kali ini tatapan Pak Hidayat kembali pada netra Kahfi yang mulai berembun. "Kamu memangnya siap ninggalin teman-teman kamu lagi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKIT
SpiritualitéSpiritual-Teenfiction Ini tentang abu-abu yang dihampiri warna pelangi. Dan juga luka yang membalut dirinya sendiri, bersama setiap doa yang ia panjatkan kepada-Nya. ⚠️BUAT DIBACA BUKAN DIPLAGIAT.⚠️ Rank 🏅 3 in Rakit Rank 🏅 15 in Kahfi Rank 🏅 7...
