32. Sakit Kahfi

22 2 0
                                        

"Aku ikhlas, tapi berikan aku waktu sebentar saja untuk merasakan pelukannya."
—Rakit—

***

Sore ini, Kahfi berniat membuatkan kue untuk Pak Hidayat. Remaja itu sengaja memberikan kue buatannya untuk Pak Hidayat. Sekali-kali membuatkan orang yang sangat berjasa dalam hidupnya dengan kue pun tidak apa-apa, kan?

Tangan cowok itu begitu lihai mencampur semua bahan-bahan kue yang sudah diajarkan oleh Bu Salma padanya. Bu Salma yang melihat kegiatan remaja itu menghampirinya.

"Gimana Fi? Ada yang bisa ibu bantuin?"

Kahfi menoleh dan menggeleng pelan. "Nggak, Bu. Masih aman! Nanti kalau Kahfi lupa, Kahfi tanya ibu." jawabnya sembari tersenyum.

Semua siap. Ia tinggal memasukkan kue tersebut ke dalam oven. Kahfi mulai mengatur oven tersebut. Siap! Tinggal menunggu selesai kue itu di oven.

Namun, saat sedang asyik menunggu sesuatu tiba-tiba membuat Kahfi terhenyak. Ada tetesan darah dari—hidungnya. Ia mimisan lagi? Kahfi mencoba mengusap terlebih dahulu bagian hidungnya. Benar, hidungnya mengeluarkan darah. Kahfi segera mencari tissue di nakas meja depan.

Tangannya mulai panik mencari tissue agar darahnya tidak menetes lebih banyak. Namun, belum selesai mencari tissuenya, rasa sakit menyerang kepala Kahfi. Ia memegangi kepalanya dengan sebelah tangannya. Sementara satu tangannya yang lain, ia gunakan untuk bertumpu pada meja.

"Ya Allah, kepalaku sakit!" ringis Kahfi dengan pandangan yang terasa semakin memburam. Belum lagi, darah mengalir keluar dari hidungnya. Lama-kelamaan, rasa sakit itu semakin menghujam.

Brukk

Remaja itu pada akhirnya jatuh tak sadarkan diri akibat rasa sakit yang mendera kepalanya. Bu Salma yang baru saja masuk seketika terkejut melihat Kahfi yang pingsan.

"Astaghfirullah! Kahfi, kamu kenapa? Kahfi bangun, Nak! Kahfi!" Bu Salma menepuk-nepuk pipi Kahfi. Ia semakin terkejut karena ternyata mengalir darah dari hidung Kahfi.

"Ya Allah, aku harus telepon Mas Hida,"

***

Remaja yang tadi pingsan itu dibawa juga ke rumah sakit oleh Pak Hidayat dan Bu Salma. Untungnya, saat Bu Salma menelepon Pak Hidayat, suaminya itu sudah dalam perjalanan dekat rumah. Sehingga Pak Hidayat bisa lebih cepat sampai.

"Dok, gimana keadaan anak saya?" tanya Pak Hidayat pada Dokter paruh baya tersebut.

Dokter itu nampak menghela nafasnya terlebih dahulu. "Apa selama ini, anak Bapak sering mengeluhkan sakit kepala, pusing, atau sering mimisan?"

Pak Hidayat sempat menoleh pada Bu Salma. "Sejauh ini—dia nggak pernah mengeluhkan apapun sama saya dan istri saya, Dok." jawab Pak Hidayat jujur.

"Begini Pak, diagnosa awal saya, sepertinya anak bapak mengidap penyakit—Leukemia."

Seketika rasanya hati Pak Hidayat mencelos mendengar penjelasan Dokter. "Tapi, ini baru diagnosa awal saya. Kita harus lakukan tes darah terlebih dahulu, untuk memastikan anak bapak mengidap Leukemia atau tidak."

Pak Hidayat masih diam. "Leu—kimia, Dok?"

"Semua baru dugaan, Pak."

RAKITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang