23. Gagal

14 1 0
                                        

"Seharusnya saya datang. Maaf,"
—Rakit—

***

Seorang cewek dengan blouse coklat, yang dipadukan dengan celana warna senada, serta pashmina jersey warna mocca itu kini tengah memulas lip balm berwarna pink alami ke bibirnya.

"Biar nggak pucat," gumamnya.

Cahaya Anara. Gadis itu merasa sedikit heran karena Arul tiba-tiba mengajaknya bertemu di taman. Cahaya yakin, ada sesuatu hal penting yang ingin Arul bicarakan. Tapi, apa? Rasa-rasanya nggak mungkin cowok itu mau menyatakan perasaannya.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Cahaya bergegas menuju taman tersebut. Ia memilih berjalan kaki karena jarak rumahnya dengan taman tersebut yang tidak terlalu jauh. Kondisi jalanan cukup ramai, meskipun tadi sempat terjadi gerimis.

Hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk bisa sampai di taman tersebut. Cahaya memainkan ponselnya sembari menunggu Arul di kursi taman. Cewek itu mengirim pesan pada Arul bahwa ia sudah berada di taman.

"Ceklis satu. Gue tunggu dulu aja, deh!" gumam Cahaya. Ia memilih menunggu Arul terlebih dahulu. Mungkin saja cowok itu tidak akan lama.

"Ya, lo sendiri?" tanya Arul yang tiba setelah hampir 15 menit Cahaya menunggu.

"Sendiri. Emang kenapa?" tanya Cahaya.

Dahi Arul mengernyit. Harusnya, ponsel Kahfi aktif. Tapi, ini saat tadi ia mengirimi pesan, WhatsApp Kahfi tidak aktif.

"Kenapa sih, Rul? Tumbenan lo ngajakin gue ketemu di sini. Ada apa?" tanya Cahaya penasaran.

Arul menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sebenarnya—"

"Sebenarnya apa?" tanya Cahaya.

"Sebenarnya—"

"Sebenarnya apa, Arul? Lo mau ngomong apa, sih?"

"Sebenarnya, gini. Tadi, waktu di sekolah, Kahfi minta cara sama gue buat minta maaf ke lo." ucap Arul.

"Minta maaf ke gue?"

"Iya. Terus ya udah, karena dia nggak mau ketemu berdua sama lo, akhirnya dia ngajakin gue juga." jeda. "Cuma—harusnya Kahfi udah datang duluan. Soalnya tadi, kita janjiannya kalau gue nyampe di sini duluan, dan lo juga udah di sini, gue harus WhatsApp dia. Tapi, WhatsAppnya malah nggak aktif." lanjutnya.

Cahaya ikut merasa heran. Ia yakin, Kahfi bukan tipe orang yang suka ingkar janji. "Atau gue tungguin aja, ya?" tanyanya pada Arul.

"Lo yakin mau nunggu?" tanya Arul.

"Iya, kayaknya gue tunggu aja. Lo kalau mau balik dulu nggak papa. Tapi—ntar kalau Kahfi kesini gue WhatsApp lo lagi."

"Ck, ya udah, deh! Sorry, ya. Gue harus balik dulu, soalnya gue harus jemput adek gue juga. Tapi—pasti kalau Kahfi kesini, gue balik juga kesini." jelas Arul.

"Iya, santai aja." ucap Cahaya.

"Ya udah, kalau gitu gue balik dulu, ya. Assalamualaikum,"

RAKITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang