30. Penolakan Kahfi

20 2 0
                                        

"Cukup biarkan ratusan do'a itu yang saling menjaga kita, menguatkan, dan menjadi saksi sakit dan bahagianya."
—Rakit—

***

Setelah beberapa hari absen karena mentalnya yang masih terguncang, Kahfi bisa kembali ke sekolah hari ini. Cowok itu memang lebih pendiam semenjak peristiwa itu, tapi setidaknya itu jauh lebih baik daripada Kahfi hanya mengurung dirinya di kamar.

Pak Hidayat mengusap pelan bahu Kahfi. "Semangat!" Kahfi tersenyum. Senyuman yang mampu membuat Pak Hidayat terenyuh. Selama beberapa minggu ini ia harus merasakannya hancurnya Kahfi dengan isakan anak itu yang terus terdengar.

Mereka berangkat ke sekolah dalam waktu beberapa menit. Kahfi menunduk terlebih dahulu sebelum memasuki gerbang sekolah. Rasanya berat sekali beberapa hari ini, sampai ia merasa mungkin tidak akan lagi bisa menginjakkan kaki di tempat ini.

"Fi, ayok masuk!" ajak Nando sembari merangkul bahu Kahfi. Kahfi menoleh ke arah Nando.

"Woy malah ngelamun di situ kalian berdua? Ayok masuk Fi!" timpal Riko.

Dua siswa itu sama-sama mengajak Kahfi masuk. Tanpa sedikitpun menyinggung masalah yang cowok itu lalui beberapa hari ini. Mereka sadar, menyinggungnya sama dengan membuka lagi luka Kahfi. Kahfi menanggapi mereka berdua hanya tersenyum. Mereka bertiga pada akhirnya memutuskan masuk ke sekolah dengan obrolan ringan.

Cahaya ternyata melihat itu dari kejauhan bersama Malida. "Aku seneng kamu kembali, Fi!" gumamnya sembari tersenyum tanpa sadar.

"Ciee, yang lagi ngeliatin Kahfi!" gurau Malida sembari menyenggol sebelah tangan Cahaya.

"Apa sih, Mal? Emang lo nggak seneng Kahfi balik?" tanya Cahaya.

"Seneng, sih. Tapi, kayaknya ada yang lebih seneng daripada aku?"

"Mal, udah ah! Ayok ke kelas!" ajak Cahaya yang berjalan lebih dulu dibandingkan Malida.

***

Bel istirahat telah berbunyi. Salah satu momen paling dinanti oleh para siswa dan siswi adalah momen istirahat pastinya. Kahfi juga mulai berjalan perlahan menuju taman. Ia mendapatkan pesan WhatsApp dari Cahaya yang mengajaknya bertemu.

Kahfi yang melihat Cahaya belum sampai memutuskan duduk terlebih dahulu di sana. Kahfi menatap lurus ke depan. Namun, ternyata isi kepalanya malah memutar sebuah obrolan antara dirinya dan Riko.

"Fi, lo ngerasa nggak sih kalau sikap Cahaya ke lo tuh beda?" tanya Riko sembari memakan snack pilus kesukaannya.

Kahfi mengerutkan keningnya. "Beda gimana?"

"Ya, contohnya kemarin aja. Gue tau sih, Cahaya bisa bela diri. Cuma lo bayangin, buat nolongin lo dia mau masuk Club itu lho?!" ujar Riko. "Jangan-jangan dia suka lagi sama lo?" tebaknya lagi.

Kahfi tertegun. Sebelum pada akhirnya ia tersenyum dan menggeleng pada Riko. "Emang kalau Cahaya nolong saya itu artinya Cahaya suka sama saya?"

"Ya—nggak juga sih. Tapi, cara dia nolongin lo tuh terlihat agak berlebih gitu!"

Kahfi  hanya diam. Rasanya terlalu lancang kalau ia harus sekedar menebak. Sebab apapun bisa jadi alasan Cahaya menolongnya.

RAKITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang