37. Ulang Tahun Ibu

13 1 0
                                        

"Meskipun mungkin ini untuk terakhir kalinya, aku bahagia karena aku pernah merasakan rasanya bertemu ibu."
—Rakit—

***

Sebuah pesan dari Dafi mampu membuat Kahfi terdiam seketika. Apa yang harus ia putuskan sekarang? Dafi mengundangnya hadir ke acara ulang tahun Tiara. Sembari Kahfi yakin kalau Tiara pasti tidak suka ia kesana. Namun, Dafi sekarang terus menspam pesan itu padanya karena ia tak kunjung membalas.

Sekarang, cowok itu malah menelepon Kahfi. Terpaksa ia mengangkat telepon kakak angkatnya itu. "Halo Kak,"

"Fi, datang ya?"

"Kak—tapi Ibu pasti nggak suka kalau saya datang."

"Jangan mikirin itu, Fi! Kalau dia nggak suka ya udah! Yang ngundang lo kan gue!"

Dafi mulai menggunakan kata 'lo' 'gue' agar Kahfi tidak merasa asing dengannya. "Udah, intinya lo harus datang! Gue marah kalau lo nggak datang, gue yang bakalan jemput lo!"

"I—iya, Kak."

Panggilan diputus sepihak oleh Dafi. Kakak angkatnya itu ternyata kekeuh memintanya datang kesana. Masalahnya kalau ia kesana, apa kado yang bisa ia bawa?

"Harus mikir dari sekarang, biar besok nggak bingung mau bawa apa." gumam Kahfi. Ia mulai memikirkan apa saja yang sekiranya bisa ia bawa untuk Ibunya. "Tanya Pak Hida aja kali ya?"

Kahfi keluar dari kamarnya dan menemui Pak Hidayat yang sekarang berada di ruang kerjanya. "Kenapa kamu nanya rekomendasi itu segala?" tanya Pak Hidayat heran.

Kahfi sedikit terhenyak mendengar pertanyaan Pak Hidayat. Namun, kalau ia berbohong juga rasanya tidak akan baik. "Buat—Ibu Pak."

Pak Hidayat menutup laptopnya dan menatap Kahfi sepenuhnya. "Buat apa sih kamu kasih kado, hadiah segala macam buat dia? Tau sendiri kan ujung-ujungnya apa yang akan kamu dapatkan dari dia?"

"Kahfi tau, Pak. Tapi kali ini aja ya? Kahfi janji—nanti Kahfi nggak akan ngasih kado atau hadiah lagi ke Ibu. Kahfi cuma takut—ini jadi terakhir kalinya Kahfi ngasih kado ke Ibu."

"Ngomong apa sih kamu?!" ujar Pak Hidayat kesal.

"Bapak kan tau kalau penyakit ini—"

"Stop bicara seperti itu! Kamu pasti sembuh Kahfi!"

Kahfi memejamkan matanya sejenak. "Kahfi mohon Pak! Kahfi cuma takut ini jadi kali terakhir Kahfi ketemu Ibu!" lirihnya.

Pak Hidayat memijat pangkal hidungnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Sebenarnya Pak Hidayat sadar kalau ia tidak punya hak untuk mencegah Kahfi bertemu dengan Ibu kandungnya sendiri. Tapi ia tetap saja merasa harus melindungi Kahfi, mengingat bagaimana perlakuan Tiara pada anaknya itu.

"Oke. Bapak bantuin," final Pak Hidayat.

Kahfi tersenyum sumringah mendengar jawaban Pak Hidayat. "Alhamdulillah, makasih ya Pak!"

"Kamu ngapain ngasih kado segala sama dia?"

"Tadi kata Kak Dafi, Ibu ulang tahun besok. Kahfi kan belum pernah ngasih kado ulang tahun untuk Ibu!"

RAKITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang