"Terasa menyesakkan memang, tapi bukankah Allah sebaik-baiknya penulis takdir?"
—Rakit—
***
Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring ke seluruh penjuru SMA Cakrawala. Seluruh peserta didik keluar dari ruang kelas masing-masing dan menyambut waktu kepulangan dengan perasaan senang.
Cahaya berjalan pelan keluar dari kelasnya. Posisi kelas sudah lebih sepi. Pulang sekolah, Nando merencanakan adanya rapat OSIS, sehingga gadis itu juga tidak bisa pulang sekarang. Ia berjalan pelan menuju ruangan OSIS.
Baru sampai di ambang pintu, netra Cahaya dan Kahfi kembali bertubrukan. Rasanya, apa yang terjadi di jam istirahat tadi itu hanya mimpi. Nando melirik pada Cahaya dan Kahfi yang masih saling menatap.
"Ya! Masuk!" titah Nando membuyarkan lamunan Kahfi dan Cahaya.
Gadis itu masuk ke ruangan OSIS dengan langkah pelan. Ia mendudukkan dirinya di samping Nando. Cowok itu melirik Kahfi dan Cahaya bergantian. Meskipun belum bersuara apapun, Nando yakin ada sesuatu yang tidak beres antara Cahaya dan Kahfi.
"Yang lain belum kesini, Do?" tanya Cahaya.
"Hilda masih di kelas. Nanti yang lain juga nyusul bentar lagi," jawab Nando sembari tersenyum ramah.
Cahaya mengangguk dan kembali fokus menatap ke depan. Rapat OSIS berjalan dengan kondusif di bawah kepemimpinan Nando dan juga Pak Hidayat sebagai pembina. Semuanya berjalan lancar, dan mereka juga bisa pulang dengan cepat ke rumah masing-masing.
Saat hendak keluar dari gerbang sekolah, Pak Hidayat bisa melihat Cahaya yang masih diam dan belum menyapa atau sekedar bertanya apapun padanya.
"Fi, kenapa?" tanya Pak Hidayat sembari menepuk pundak Kahfi.
Cowok itu menggeleng pelan sembari tersenyum. "Nggak papa, Pak."
Pak Hidayat yang mendapat jawaban itu hanya tersenyum.
"Assalamualaikum, Pak. Fi!"
Suara Dean mampu membuat Pak Hidayat dan Kahfi menoleh.
"Waalaikumussalam, kenapa Yan?" tanya Pak Hidayat.
"Mau ngajakin Kahfi pulang, Pak. Sekalian mau ngajakin makan! Mau nggak?" tanya Dean.
"Boleh,"
"Ya udah, kalian berdua hati-hati! Dean, jangan ngebut!" peringat Pak Hidayat.
"Siap, Pak!"
Dean mulai menaiki motornya dan menyalakan mesin kuda besinya itu. Ia membawa dua helm, yang satunya diberikan pada Kahfi. Cowok itu melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Fi, gue seneng lo udah sembuh!" ucap Dean sedikit berteriak, karena posisi mereka yang berada di atas motor disertai bisingnya jalanan kota.
"Makasih, Yan. Makasih juga selama saya sakit kemarin kamu mau jengukin saya!"
"Santai, Bro! Lo udah gue anggap adik gue sendiri! Lo udah bilang makasih juga sama Cahaya? Dia satu-satunya cewek yang kemarin bela-belain nolongin lo!"
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKIT
SpiritualSpiritual-Teenfiction Ini tentang abu-abu yang dihampiri warna pelangi. Dan juga luka yang membalut dirinya sendiri, bersama setiap doa yang ia panjatkan kepada-Nya. ⚠️BUAT DIBACA BUKAN DIPLAGIAT.⚠️ Rank 🏅 3 in Rakit Rank 🏅 15 in Kahfi Rank 🏅 7...
