24. Club

13 2 0
                                        

"Rasanya seperti ditusuk, bahkan lebih sakit dari ditusuk. Saat orang yang kita percaya, justru kembali menjadi bagian dari luka."
—Rakit—

***

"Ayah mau ajak Kahfi kemana, sih? Kok pakai ditutup segala matanya?" tanya Kahfi penasaran.

"Kalau Ayah kasih tau, namanya bukan kejutan, dong!" ucap Hadi sembari menyetir mobilnya.

Kahfi hanya bisa tersenyum mendengar penuturan Ayahnya. Apa katanya, Ayahnya berbeda dengan Ibunya, Tiara. Hadi bisa menerima Kahfi sepenuh hati, tanpa sedikitpun menghardik keberadaannya.

Perjalanan hampir satu jam itu akhirnya selesai. Hadi mulai memarkirkan mobilnya di sebuah tempat yang cukup ramai. Hanya saja, ada dua orang yang ia perintahkan untuk tidak berisik.

"Fi, kita udah sampai. Ayah bukain pintunya sebentar, ya?" ucap Hadi.

Kahfi mengangguk pelan.

"Kalian bukain pintu untuk dia! Dan ingat, langsung bawa dia ke gudang. Kalau dia berontak, pukul aja! Pokoknya, anak ini harus sampai ke tangan Madame! Paham, kalian?!"

"Siap, Bos!" ucap salah seorang diantara mereka.

Mereka mulai membukakan pintu mobil Kahfi dan menarik tangan remaja itu dengan kasar. Kahfi tersentak kaget. Mana mungkin Ayahnya sekasar ini? Lagipula, ini seperti bukan sentuhan tangan Hadi.

"Ayah, kenapa? Ada apa?" tanya Kahfi dengan mata tertutupnya.

"Bawa dia!" titah Hadi dengan suara tegasnya.

"Yah, Kahfi mau dibawa kemana? Ayah?" tanya Kahfi panik. Kedua tangannya kini sudah ada dalam cengkraman dua orang tadi.

"Kamu nggak usah protes!"

"Yah, nggak Kahfi nggak mau! Kahfi takut, Yah!" Kahfi menggeleng keras.

"Udah bawa aja! Ingat, jangan sampai dia kabur!" tekan Hadi.

"Ayah, nggak! Kahfi nggak mau! Ayah—"

Bug

Dan ketika sadar, matanya masih ditutup oleh kain yang sama. Bahkan Kahfi tidak tahu ia ada di mana sekarang. Dan kenapa Ayahnya bisa berubah dalam waktu sekejap?

Air matanya mulai kembali mengalir mengingat lima hari terindah bersama Ayahnya. Indah sekali. Mungkin itu yang membuatnya lupa pada satu hal. Ia hanyalah anak yang tidak diinginkan oleh kedua orangtuanya. Dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun. Sakit sekali mengingat kenyataan itu. Kenapa Ayah malah merusak kepercayaannya?

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Dua orang penjaga yang sedari tadi menjaga Kahfi saling melirik. Mereka lantas mendatangi Kahfi dan mulai melepaskan ikatan tangan remaja itu.

"Saya—saya mau dibawa kemana?" tanya Kahfi terbata.

"Udah, diam! Lu tinggal nurut aja kita mau bawa lu kemana! Lagian, bokap lu udah nerima duitnya dari, Madame!"

"Uang? Uang apa? Madame siapa?" tanya Kahfi kebingungan.

"Ah, banyak tanya, lu!" ujar salah satu diantara mereka.

RAKITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang