"Rencana Allah itu pasti baik. Hanya kadang kita yang lebih percaya dengan rencana kita dibandingkan rencana sang Maha Penentu."
—Rakit—
***
Dean menutup telepon dari Cahaya dalam keadaan kebingungan. Dean bergumam, "Madame Helen." Siapa yang bisa membantunya mencari Madame Helen. Sedangkan, ia sendiri pun tidak mengenali wajah Madame Helen.
"Bang, kenapa lo?" tanya Fero sembari menepuk pundak Dean.
"Lo tau Madame Helen?" tanya cowok bermata elang itu.
Fero menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kalau nggak salah, setahu gue dia tuh pemilik club di deket basecamp kita dulu, Bang! Yang ujung gang keliatan itu!" jawab Fero jujur.
Dean teringat dengan peristiwa beberapa hari lalu. Saat ia melihat dua orang bertubuh besar, membawa anak yang mungkin seusianya dengan mata ditutup kain untuk memasuki tempat itu. Setelah itu, ia malah banyak memikirkan tiga orang tadi. Apa jangan-jangan itu Kahfi?
"Brengsek!" umpatnya sembari meremas ponsel di tangan kanannya.
"Bang, kenapa?" tanya Fero panik. Takutnya, dia malah dihajar Dean karena tahu soal Madame Helen. Siapa tahu Dean berpikir kalau Fero pernah masuk ke club itu.
"Sorry, Fer!" ucap Dean dengan nada datar. Cowok itu lantas pergi meninggalkan Fero yang kebingungan sendirian karena melihat tingkahnya.
"Bang Dean kenapa, dah?"
Di kelas, Dean segera menelpon Cahaya. Sayangnya, ponsel gadis itu tidak aktif. Dean pun memilih untuk mengirim pesan pada Cahaya. Semoga saja, gadis itu membacanya.
***
Pukul 19.00 WIB, Dean mengajak Cahaya, Pak Hidayat, Nando, Riko dan Arul bertemu. Mereka bertemu di dekat SMA Cakrawala, melihat tempat itu cukup menengah untuk mereka bertemu.
"Kenapa kamu ngajak kami bertemu di sini?" tanya Pak Hidayat.
"Gini Pak, guys, gue udah dapat info siapa itu Madame Helen dan di mana dia berada." jelas Dean sembari menatap mereka satu-persatu.
Pak Hidayat menatap Dean semakin serius. "Kamu yakin? Semudah itu kamu menemukan dan tau tentang wanita bernama Helen itu?"
"Iya, Pak. Letak club Madame Helen dulu memang tidak jauh dari basecamp tempat saya dan teman-teman saya berkumpul." jawab Dean dengan tenang.
"Ya udah kalau gitu kita kesana sekarang aja!" ajak Cahaya tak sabaran.
"Saya tanya sekali lagi sama kamu, kamu nggak berbohong?" tanya Pak Hidayat dengan tatapan yang lebih serius.
Dean menghela nafas sembari mengangguk yakin. "Kalian harus percaya sama gue!" pintanya.
"Pak, saya yakin Dean nggak mungkin bohong. Saya percaya sama Dean, Pak! Kita kesana sekarang ya, saya takut keburu terjadi sesuatu sama Kahfi!" ucap Cahaya mencoba meyakinkan Pak Hidayat. Dengan cepat, Pak Hidayat langsung memasuki mobilnya, disusul Cahaya, Nando dan Arul. Sementara Dean dan Riko memimpin menggunakan motor sport mereka.
Dalam perjalanan, isi kepala Dean benar-benar berisik. Kalau saja dia tahu anak laki-laki remaja yang ia lihat waktu itu adalah Kahfi, sudah pasti dia akan menghajar dua orang bertubuh besar itu habis-habisan. Tatapan tajamnya menghunus lurus ke arah jalan. Kalau dia diizinkan menusuk seseorang dengan pisau, mungkin menusuk Ayah kandung Kahfi akan menjadi pilihan pertamanya. Ada ternyata, seorang Ayah yang menjual anak kandungnya sendiri demi uang. Padahal saat tadi Cahaya bercerita, katanya rumah Ayah kandung Kahfi sudah sangat megah. Apalagi yang laki-laki itu cari sebenarnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKIT
SpiritualSpiritual-Teenfiction Ini tentang abu-abu yang dihampiri warna pelangi. Dan juga luka yang membalut dirinya sendiri, bersama setiap doa yang ia panjatkan kepada-Nya. ⚠️BUAT DIBACA BUKAN DIPLAGIAT.⚠️ Rank 🏅 3 in Rakit Rank 🏅 15 in Kahfi Rank 🏅 7...
