"Luka terhebat kadang berasal dari mereka yang terdekat."
—Rakit—
***
Suara dobrakan pintu itu mampu membuat wanita tersebut melepaskan cengkeramannya pada dagu Kahfi. Kahfi yang ketakutan hanya kemudian menenggelamkan wajahnya pada lututnya sendiri. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Kahfi kalut. Ia ketakutan tapi juga pasrah.
Pak Hidayat, Nando, dan Cahaya berhasil masuk. Sedangkan Dean, Arul, dan Riko masih sibuk menghajar beberapa penjaga di sana. Wanita itu menatap nyalang mereka bertiga.
"Siapa kalian?"
Pak Hidayat langsung berjongkok mensejajarkan posisinya dengan Kahfi. "Fi, kamu nggak papa?"
Namun, tak sampai disitu. Beberapa orang kembali datang membuat perkelahian kembali tak bisa dielakkan. Kahfi ketakutan. Tubuh cowok itu bergetar hebat. Cahaya bisa melihat itu semua. Ia hendak menghampiri Kahfi sebelum tangan wanita itu terlebih dahulu menariknya dengan kasar.
"Jauhi dia!"
"Anda siapa? Lepas!" Cahaya meronta kuat. Ia menginjak salah satu kaki wanita itu dengan keras sampai wanita itu mengaduh kesakitan.
"Fi, ini aku!" Cahaya mencoba membuat Kahfi benar-benar mengenalinya.
Dean masuk dan mulai membantu Pak Hidayat serta Nando yang kewalahan. Sedangkan wanita itu terus saja berusaha menjauhkan Cahaya dari Kahfi. Salah satu penjaga hendak memukul bahu Cahaya, untungnya Dean yang menyadari itu terlebih dahulu memukul penjaga itu.
"Pak, Bapak mending keluar bawa Kahfi dan Cahaya dulu!" titah Dean disela-sela perkelahian mereka.
"Kamu gimana?"
"Saya bisa, Pak. Saya udah suruh beberapa teman saya kesini! Cepet Pak sebelum mereka bertambah banyak!" titah Dean tak sabar.
Pak Hidayat melirik ke arah Kahfi dan Cahaya. Ia membawa dua orang itu beranjak keluar dari kamar perempuan gila tersebut. Pak Hidayat memapah Kahfi sembari menutupi wajah anak itu dari orang-orang yang seolah beringas. Satu tangannya tak lepas menuntun Cahaya. Jangan sampai gadis itu ikut terjebak dalam club ini.
Dean yang merasa semuanya sudah aman mulai perlahan keluar. Namun, ternyata tak hanya sampai disitu saja. Di luar kamar, Kahfi, Pak Hidayat dan Cahaya juga kembali terjebak oleh beberapa anak buah Madame Helen yang jumlahnya lumayan banyak.
Dean, Nando, Arul, dan Riko kembali harus mengeluarkan tenaganya untuk melawan mereka semua. Setelah beberapa lama, akhirnya teman-teman Dean yang lain datang membantu. Yang beruntung bisa membuat Kahfi, Pak Hidayat dan Cahaya bisa lebih dulu keluar dari tempat tersebut.
"Kahfi, kamu nggak papa, Nak?" tanya Pak Hidayat sembari mengusap surai lembut milik cowok itu.
Yang ditatap hanya menggeleng pelan sembari menundukkan kepalanya. Cowok itu belum berani sedikitpun menatap orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Hei! Mau dibawa kemana anak itu?!" Suara menggelegar Madame Helen mampu membuat atensi mereka bertiga teralihkan.
"Heh, dia udah saya beli! Lepasin dia!"
Tubuh Kahfi seketika bergetar. Cowok itu benar-benar takut harus kembali lagi ke tempat itu. "Kalau kamu mau minta uang kamu balik, minta sama Hadi! Jangan pernah kamu ganggu dia lagi!"
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKIT
SpiritualeSpiritual-Teenfiction Ini tentang abu-abu yang dihampiri warna pelangi. Dan juga luka yang membalut dirinya sendiri, bersama setiap doa yang ia panjatkan kepada-Nya. ⚠️BUAT DIBACA BUKAN DIPLAGIAT.⚠️ Rank 🏅 3 in Rakit Rank 🏅 15 in Kahfi Rank 🏅 7...
