"Andai saya bisa memilih, mungkin saat itu saya menjawab tidak untuk dilahirkan ke dunia ini."
—Rakit—
***
Setelah hampir satu bulan yang lalu ia dan Kahfi sempat cekcok. Dean memutuskan untuk tidak menemui dulu temannya itu. Ia memilih menghindar dan menjauh meskipun tahu mengenai jadwal kemoterapi Kahfi. Dean benar-benar mengikuti kemauan Kahfi untuk tidak banyak ikut campur, bahkan kali ini ia juga tidak peduli dengan urusan kemoterapi Kahfi.
Tidak, Dean sebenarnya tidak benar-benar acuh pada Kahfi. Ia masih sering menanyakan soal Kahfi diam-diam pada Nando dan meminta agar cowok itu tidak banyak bicara pada Kahfi. Seperti sekarang, ia memilih untuk nongkrong di Cafe sendirian. Mencoba menenangkan isi kepalanya yang ikut berisik.
"Bro!" seseorang menepuk pundak Dean dari belakang.
Dean menolehkan kepalanya. Ternyata, itu Dafi. "Bang Dafi?"
"Sendiri aja lo di sini? Gue duduk ya?" kata Dafi sembari mendudukkan dirinya di kursi di hadapan Dean.
"Iya Bang. Lo sendiri?*
"Iya gue sendiri. Mbak!" seorang waiters yang Dafi panggil pun menghampirinya. "Saya mau pesen cappucinonya satu,"
"Baik Mas, ditunggu sebentar!"
"Makasih, Mbak!" Dafi menatap Dean yang terkesan lebih pendiam padanya. "Lo udah pesen?"
Dean mengangguk pelan. Ia menatap Dafi dengan raut wajah yang sulit diartikan. Rasanya ia ingin sekali mempertanyakan soal Tiara. "Bang—gue boleh nanya sesuatu?"
"Apaan?"
"Sorry tapi kalau misalnya ini terkesan private buat lo! Gue tanya sesuatu sama lo soal nyokap lo!"
"Nyokap gue?" tanya Dafi dengan alisnya yang mengkerut.
"Iya. Lo tau soal masa lalu nyokap lo? Atau dia pernah cerita sesuatu ke lo?" tanya Dean sedikit hati-hati.
"Nggak. Emang kenapa, Yan? Kok lo nanyain hal kayak gitu ke gue?" tanya Dafi sedikit tegas.
"Gue minta maaf, Bang! Mungkin gue terkesan nggak sopan sama lo. Kalau lo mau tau kenapa gue tanyain semua ini ke lo, lo datang ke alamat ini!" Dean mengirim alamat rumah Pak Hidayat pada Dafi lewat pesan WhatsAppnya.
"Dean ini ada apa sih sebenarnya? Kenapa nggak lo langsung cerita aja?"
"Sorry Bang, gue nggak bisa! Tapi gue minta tolong, lo harus datang ke alamat itu. Lo bisa tanya semuanya sama orang yang bernama Pak Hidayat,"
Dafi menatap Dean heran. Namun, ia juga penasaran. Apalagi ini perihal ibu sambungnya dan masa lalunya. Mau tak mau, ia pada akhirnya memilih untuk pergi ke sana setelah selesai berbincang hal lain dengan Dean. Meskipun kali ini, obrolannya dengan Dean terasa hambar dan kaku.
***
Deru mesin motor Dafi berhenti tepat di alamat rumah yang Dean berikan. Ia membuka helm full facenya, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Perlahan, ia turun dari motornya sembari mengecek kembali nomor rumah dan alamat lainnya. Memastikan agar ia tidak salah alamat.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKIT
DuchoweSpiritual-Teenfiction Ini tentang abu-abu yang dihampiri warna pelangi. Dan juga luka yang membalut dirinya sendiri, bersama setiap doa yang ia panjatkan kepada-Nya. ⚠️BUAT DIBACA BUKAN DIPLAGIAT.⚠️ Rank 🏅 3 in Rakit Rank 🏅 15 in Kahfi Rank 🏅 7...
