38. Sudah Akhir?

18 1 0
                                        

"Aku percaya dengan segala alur yang telah Dia tetapkan untukku."
—Rakit—

***

Sore ini, Kahfi tiba-tiba drop dan mimisan hebat sepulang sekolah. Pak Hidayat yang panik setengah mati tak pikir panjang untuk segera membawa anak itu ke rumah sakit. Sepanjang jalan, ia terus menerus merasakan kekhawatiran tiada tara melihat kondisi Kahfi yang terasa semakin menurun. Harusnya kemoterapi yang rutin ia lakukan memberikan dampak baik kan? Bukan malah seperti ini!

"Mohon maaf, Pak. Selama kami memantau kondisi Kahfi, sepertinya proses kemoterapi tidak cukup membantu memperbaiki kondisinya. Sel darah putih tersebut semakin menyebar dan sudah mencapai pada hati dan sumsum tulang belakang pasien. Kami tim Dokter hanya bisa berusaha untuk proses pengobatan yang dapat memperpanjang hidup pasien." jelas Dokter yang membuat Pak Hidayat terdiam seketika.

"Hanya memperpanjang, Dok?"

Dokter tersebut mengangguk pelan. Pak Hidayat bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Kahfi. Pria itu mencium kening Kahfi dengan penuh kasih sayang. "Kamu harus bertahan, Nak! Sekalipun hanya untuk memperpanjang hidup kamu, Bapak akan berusaha untuk itu!"

Kahfi harus diopname agar Dokter dapat mengetahui perkembangan tubuhnya yang signifikan. Bukan signifikan meningkat, tapi berkurang. Kondisi tubuh remaja itu benar-benar berbeda. Ia kehilangan berat badannya secara drastis, belum lagi rontok parah yang ia alami. Kahfi juga beberapa kali hanya diam di kursi roda saat teman-teman menjenguknya.

Seperti sekarang, semua teman-teman OSIS seangkatan datang menjenguknya. Ada Cahaya juga di sana. Namun, netra Cahaya justru terfokus pada helaian rambut yang menempel di baju pasien Kahfi. Cahaya mendekat pada Kahfi.

"Fi, rambut kamu—" tunjuk Cahaya pada area bahu Kahfi. "Rontok?"

Kahfi melirik ke arah bahunya. Ia mengusap bahunya pelan agar rambut itu terjatuh dari sana. Ia hanya tersenyum simpul. "Kenapa bisa rontok parah kayak gitu?" tanya Cahaya penasaran.

"Aku emang lagi nggak cocok sama shampo yang aku pakai aja,"

Cahaya tak langsung mengangguk. Ia masih menatap Kahfi seolah meminta kejujuran dari cowok itu. Namun, pada akhirnya ia menganggukkan kepalanya pelan mencoba percaya meskipun hatinya tidak.

Nyatanya, saat mereka semua menjenguk Kahfi, ada beberapa pasien yang juga terhibur dengan sekelompok anak muda itu. Riko misalnya banyak memberikan permainan kecil dan hadiah untuk anak-anak yang juga berjuang melawan penyakit mereka di rumah sakit itu. Tawa mereka semua pecah bersama dengan setiap canda dan gurauan yang terdengar. Suasana hangat begitu terasa oleh mereka semua.

Mereka semua tertawa hangat, begitupun dengan Kahfi. Netranya dan Cahaya tak sengaja bertubrukan saat sedang menikmati momen tersebut sembari tertawa hangat. Cahaya tahu, tak seharusnya ia lagi-lagi tenggelam dalam netra yang tak pernah memiliki arti tatap yang sama padanya. Tapi, entah kenapa melihat Kahfi tersenyum seperti ini, ia merasa jauh lebih lega.

Kahfi juga! Ia menggerutu dalam hati karena tak cepat-cepat memutus kontak matanya pada Cahaya. Harusnya ia tak tenggelam pada sesuatu yang tak pantas ia miliki kan?

"Fi, kamu harus istirahat lagi, Nak!" ajak Pak Hidayat membuat Kahfi memutuskan kontak matanya dengan Cahaya.

"Iya. Lo istirahat gih sana! Biar cepat sembuh, ntar bisa bawain makanan lagi buat kita!" gurau Riko.

RAKITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang