"Aku terima apapun takdir yang Engkau tetapkan, baik buruknya hanya Engkau yang berhak menentukan."
—Rakit—
***
Kahfi hanya diam di dalam mobilnya dengan Pak Hidayat. Cowok itu memilih tak banyak bicara dan hanya tersenyum atau mengangguk saat Pak Hidayat menanyainya. Rasa kaget dengan penjelasan yang Pak Hidayat berikan padanya tadi setelah dari Dokter, masih terasa menyesakkan dadanya.
Pak Hidayat sesekali melirik Kahfi yang duduk di sebelahnya. "Pak, saya boleh minta sesuatu sama Bapak?" tanya Kahfi.
"Apa Nak?"
"Tolong, jangan kasih tau teman-teman yang lain kalau saya sakit, ya? Cukup Dean aja yang tau."
Pak Hidayat nampak berpikir sejenak. "Kenapa?"
"Saya cuma nggak mau diperlakukan kayak orang sakit, Pak." jawab Kahfi jujur.
Pak Hidayat mengangguk sembari tersenyum samar. Sebenarnya pria itu tengah mati-matian menahan tangis saat kata sakit Kahfi ucapkan. "Termasuk sama Mama." tambah Kahfi.
"Fi, ibu kamu perlu tau semuanya."
Kahfi tersenyum sembari menggeleng pelan. "Kahfi nggak mau buat Mama kepikiran atau—merasa terbebani."
Pak Hidayat akhirnya mengalah dan memilih mengangguk. Tak lama, mereka sampai juga di rumah. Namun, ternyata Dean mengikuti mereka sampai rumah.
Cowok itu turun dari motornya. "Masuk, Yan!" tawar Pak Hidayat.
"Di sini aja Pak." jawab Dean dengan nada yang masih lesu.
"Yan, makasih ya udah jengukin saya!" kata Kahfi sembari duduk di kursi terasnya bersama Dean.
Dean menatap lurus ke depan. "Gue minta imbalan.*
"Imbalan?"
Dean mengangguk mantap. "Lo harus kasih gue imbalan!"
"Imbalan apa?"
Dean menatap Kahfi intens. Sekelebat ingatan saat temannya itu mimisan dan penjelasan menyakitkan yang Dokter berikan kembali berkelebat di otaknya. "Lo—harus berusaha sembuh! Apapun yang terjadi!"
Kahfi menatap Dean dengan netra yang hampir berkaca-kaca. Namun, pria itu segera mengalihkan pandangannya. "Pasti, Yan! Kamu tenang aja. Tapi—kalau nanti ternyata hasilnya nggak sesuai harapan, berarti itu udah jadi bagian dari takdir Allah. Saya udah berusaha,"
"Gue yakin hasilnya akan sesuai harapan. Asal lo mau berusaha!" tegas Dean mencoba tegar. "Kita baru kenal sebentar. Jangan main cabut gitu aja!"
Kahfi terkekeh pelan. "In syaa Allah, ya. Do'ain saya!"
"Yan, tolong jangan kasih tau soal ini ke temen-temen yang lain ya?"
Dean mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Saya nggak mau mereka khawatir dan memperlakukan saya layaknya orang sakit. Saya mau—kalau nanti saya pergi pun, mereka punya kenangan yang bahagia sama saya."
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKIT
SpiritualSpiritual-Teenfiction Ini tentang abu-abu yang dihampiri warna pelangi. Dan juga luka yang membalut dirinya sendiri, bersama setiap doa yang ia panjatkan kepada-Nya. ⚠️BUAT DIBACA BUKAN DIPLAGIAT.⚠️ Rank 🏅 3 in Rakit Rank 🏅 15 in Kahfi Rank 🏅 7...
