25. Murah

17 2 0
                                        

"Terkadang, hal yang buruk terjadi karena Tuhan sedang menyusun sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang bisa kita bayangkan."
—Rakit—

***

"Bro, telat lo nyampenya?" tanya Restu pada Dean.

Ya, hari ini Dean dan beberapa teman satu tongkrongannya sedang kumpul di sebuah warung tempat mereka biasa berkumpul. Meski begitu, tidak ada narkoba, minuman keras atau apapun yang berbau negatif. Tidak. Dean melarang itu.

Mereka memang anak motor. Hobi motor, hobi balap. Tapi, tidak untuk balap liar. Jika ada yang melanggar ketentuan tadi, maka siap-siap dihajar habis-habisan oleh Dean. Selain itu, Dean juga tak segan melaporkan pelakunya ke kantor polisi.

"Aman? Nggak ada anak baru yang bawa perilaku negatif?" tanya Dean memastikan. Beberapa hari ini, ada anak-anak baru yang bergabung dengan mereka.

"Aman, Yan! Sans, Bro! Mereka udah gue seleksi dengan sangat ketat!" jawab Restu.

"Bagus. Jangan sampai sedikitpun kita kecolongan!" ujar Dean mengingatkan.

"Siap! Mau pesen apa, lo? Si Babeh nungguin, tuh!"

"Biasa."

"Oke, Brodi!"

Dean mulai berbincang dengan beberapa temannya yang lain. Ia juga ikut menanyai beberapa anak baru tadi. Dean cukup puas dengan jawaban mereka, dan sepertinya mereka juga anak baik-baik. Kalau hobi motor mereka ini disalahgunakan, akan jauh lebih berbahaya. Setidaknya, mereka jadi punya wadah untuk mengembangkan bakat mereka. Karena jangan salah, Dean sudah dikenal oleh beberapa orang yang melatih pembalap secara resmi di Bandung.

Saat tengah fokus berbincang, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir tidak terlalu jauh dari warung tempat mereka. Mata Dean menyipit saat melihat dua orang bertubuh besar, membawa seorang remaja laki-laki yang mungkin seusianya.

"Kenapa, Bang?" tanya salah satu anak baru yang bernama Rafa.

Dean mengabaikan pertanyaan Rafa. Cowok itu berjalan sedikit dan melihat dua orang tadi membawa remaja itu ke sebuah tempat yang memasuki gang. Tapi, postur tubuhnya—kenapa tidak asing?

"Di gang itu ada tempat apa?" tanya Dean penasaran.

"Itu—Club, Bang." jawab Rafa.

"Lo semua suka kesana?" tanya Dean tegas pada teman-temannya. Kalau tempatnya tidak terlalu jauh begini, bagaimana kalau teman-temannya khilaf? Atau dia sendiri yang khilaf?

"Jawab!"

"Nggak, Yan! Kita kan patuh sama aturan dari, lo!" jawab Restu.

"Beh, besok warung Babeh pindah aja ke tempat lain, mau? Biar Dean yang modalin dari awal!" tawarnya.

"Ya, kalo Babeh sih, mau-mau aje! Tapi—bener nih, Yan?"

"Bener, Beh! Babeh tenang aja! Dean takut mereka khilaf, atau Dean juga khilaf!"

Iya. Dean bahkan berani mengambil keputusan seperti ini. Karena kata Kahfi—eh, kenapa ia jadi teringat Kahfi?

RAKITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang