35. Fakta

18 0 0
                                        

"Setiap hari aku berdo'a, semoga kelahiranku sama diharapkannya dengan mereka."
—Rakit—

***

Hari ini, setelah rapat OSIS selesai. Nando mengajak teman-teman dekatnya untuk nongkrong di tempat biasa mereka. Tak lupa juga mereka mengajak adik-adik OSIS mereka untuk ikut serta untuk lebih mengakrabkan diri pada senior-seniornya. Seperti sekarang, Nando, Riko, dan Ariel sudah berada di sana. Sisanya ada adik-adik kelas mereka dan anggota lainnya.

"Gilee, lapar banget gue! Pak Hida tumben kagak ngirimin kita makanan?" ucap Riko sembari memegangi perutnya.

"Lo kesini numpang makan doang apa gimana dah, Bang?" tanya Fajar, si adik kelas mereka bergurau.

"Eh, sekate-kate lo! Ini namanya sekali dayung sepuluh pulau terlampaui! Makanan ada, nongkrong iya, silaturahmi juga, ngobrol-ngobrol sama kalian juga iya, bahas masalah OSIS tipis-tipis iya, coba apalagi yang kurang?" ujar Riko mengabsen satu persatu acara mereka kalau nongkrong.

"Jar, lo kayak nggak tau aja dia kayak gimana. Perutnya karet!" timpal Nando.

"Terserah! Intinya ini kenapa Pak Hidayat tumben nggak—"

"Assalamualaikum semua!"

Kahfi datang membawa sekresek kantong plastik merah besar yang ia bawa dari luar. "Waalaikumussalam, eh Fi! Apa nih? Repot-repot, sini gue bawain!" Riko membawakan kresek yang Kahfi bawa.

"Repot-repot tapi ditungguin!" sindir Andre.

"Oh ya, di depan masih ada Ndre!"

"Oke Bang, gue bawain!"

Andre dan Fajar ikut membawakan kresek yang lain yang juga berisi makanan yang Bu Salma buat untuk anak-anak OSIS itu. Sementara Riko, ia sudah misah-misuh sendiri membuka kotak makanan itu.

"Masya Allah, emang bener kata Allah. Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Fi, bilangin makasih sama Pak Hida sama Bu Salma ya?" kata Riko sembari menatap makanan yang ada di hadapannya.

"Eh, tungguin napa! Yang nganterin makanannya aja belum duduk, udah maen lo buka aja tuh kotak nasi!" tegur Nando.

"Iya-iya, sorry! Abisnya perut gue udah keroncongan Fi dari tadi, sorry ya!"

"Nggak papa Ko! Saya ngerti. Ayok kita makan-makanannya bareng-bareng!" ajak Kahfi pada mereka semua.

Melihat Riko, Nando, dan teman-temannya yang lain terlihat bahagia dengan makanan yang ia bawa, Kahfi tanpa sadar menyunggingkan senyumannya. Ia diam-diam memotret kebersamaan mereka semua. Namun, tanpa diduga tiba-tiba Riko membuat huruf V dengan kedua jarinya.

Kahfi sedikit tersentak mendapati itu. "Lo kenapa dah tumben motoin kita?" tanya Riko heran.

"Ng-nggak papa, emang nggak boleh ya?"

"Boleh. Tapi—aneh aja gitu jadinya." jawab Riko yang merasa tidak enak hati.

"Lagian lo moto-moto kayak gitu, kayak mau pergi aja, Bang!" celetuk Fajar yang membuat Nando menoleh ke arah Kahfi seketika.

"Lo—aman kan?" tanya Nando memastikan.

Kahfi tersenyum sembari mengangguk mantap. Namun, tatapan mereka masih tertuju padanya. "Kalian kenapa sih jadi liatin saya kayak gitu?"

RAKITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang