"Kita terlalu fokus pada sakitnya, bukan arti di baliknya."
-Rakit-
***
Cahaya mengaduk mie goreng yang ia beli di kantin tanpa selera. Gadis itu memakan makanannya di kelas. Ia beberapa kali melirik kursi Kahfi yang masih kosong. Sudah dipastikan, cowok itu belum masuk sekolah kembali.
"Mikirin Kahfi, ya?" tanya Malida yang melihat teman sebangkunya itu terus melirik kursi Kahfi.
Cahaya hanya mengangguk pelan sembari tersenyum. "Doain aja, semoga Kahfi cepet sembuh!" kata Malida menyemangati.
Malida mengerti bagaimana khawatirnya Cahaya pada Kahfi. Mungkin, temannya ini punya perasaan pada Kahfi. Atau-hanya peduli sebagai teman.
"Kamu suka ya sama Kahfi?" tanya Malida asal menebak.
Mata Cahaya membelalak. "Nggak!" Ia menggeleng cepat.
"Kalau suka juga nggak papa kali! Kamu sama Kak Andra juga udah putus, kan?"
Cahaya melirik Malida sesaat sebelum kembali berucap. "Emangnya aku pantas sama Kahfi?" tanyanya pelan.
"Kenapa enggak?"
Cahaya menghela nafas pelan. "Ya kan Kahfi tipikal cowok yang baik, baik banget! Rajin, religius. Lah aku?!"
Malida menepuk pergelangan tangan Cahaya. "Pantas nggak pantasnya kita itu tergantung seberapa mau kita memantaskan diri."
"Minder aku kalau sama Kahfi."
"Gimana kalau plot twistnya justru Kahfi yang minder sama kamu?"
Cahaya terdiam. Bicara dengan Malida jadi malah membuatnya tambah kegeeran seperti ini. Ia memilih mengaduk-aduk kembali minumannya.
***
Seusai pulang sekolah, Dean langsung tancap gas mengunjungi Kahfi di rumah Pak Hidayat. Cowok itu benar-benar ingin tahu bagaimana keadaan Kahfi sekarang. Tak butuh waktu lama bagi Dean sampai di rumah Pak Hidayat.
"Assalamualaikum!" panggil Dean dari luar rumah Pak Hidayat.
Tak berapa lama, suara Pak Hidayat terdengar samar menjawab salam dari Dean. "Waalaikumussalam!" Pak Hidayat membukakan pintu rumahnya dan tampaklah Dean yang tersenyum ramah kepadanya.
"Pak," Dean mengulurkan tangannya menyalimi Pak Hidayat.
"Dean. Kamu sendiri?" tanya Pak Hidayat dengan ramah.
"Iya, Pak. Kahfinya-ada kan?" tanya Dean hati-hati.
Pak Hidayat tersenyum. "Ada. Tapi belum mau keluar kamar, gimana?"
"Nggak papa, Pak! Saya cuma mau ajakin Kahfi ngobrol, ya walaupun dari luar kamar." kata Dean tulus.
"Ya udah, ayok masuk!" Pak Hidayat mempersilakan Dean untuk masuk ke dalam rumahnya. Sempat Pak Hidayat menawarkan minuman untuk Dean. Namun, cowok itu menolak. Rasanya dia juga tidak terlalu haus.
"Kalau kamu mau ambil minuman, ambil aja di kulkas!" ucap Pak Hidayat.
"Siap, Pak!" kata Dean sembari mengambil sikap hormat pada Pak Hidayat. Ternyata benar apa kata Cahaya, cowok itu akan hangat pada orang-orang yang sudah dekat dan benar-benar mengenalinya. Buktinya, cowok itu mau menjenguk Kahfi bahkan menjadi salah satu orang yang menyelamatkan Kahfi. Padahal mereka belum lama saling mengenal.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKIT
SpiritualSpiritual-Teenfiction Ini tentang abu-abu yang dihampiri warna pelangi. Dan juga luka yang membalut dirinya sendiri, bersama setiap doa yang ia panjatkan kepada-Nya. ⚠️BUAT DIBACA BUKAN DIPLAGIAT.⚠️ Rank 🏅 3 in Rakit Rank 🏅 15 in Kahfi Rank 🏅 7...
