BAB 2 - SOULMATE

4.1K 285 37
                                        


UPDATE!!!

Ayo semua merapat! Siapa yang udah nunggu chapter ini? mana suaranya?

Oke langsung aja ke cerita, semoga kalian suka dan happy reading 😁😁

Vote comment share

Follow recommend

Love,

DyahUtamixx

Jangan lupa berikan tip sebagai bentuk apresiasi kalian pada Luna Beasty dan supaya aku dapat terus bersemangat^^

Kalian bisa berikan tip lewat trakteer (@ dyah-utami2) atau lewat Karyakarsaku (@ DyahUtami25)😄😄

"Marinka, jika kau menjadi diriku, apa yang akan kau rasakan saat kau telah meyakini kalau dirimu sendirian di dunia ini, ternyata kau memiliki keluarga yang selama ini tidak kau ketahui eksistensinya?" Luna bertanya pada Marinka dengan suara yang...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Marinka, jika kau menjadi diriku, apa yang akan kau rasakan saat kau telah meyakini kalau dirimu sendirian di dunia ini, ternyata kau memiliki keluarga yang selama ini tidak kau ketahui eksistensinya?" Luna bertanya pada Marinka dengan suara yang bergetar. Matanya terpejam erat untuk menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Dia menarik napas panjang, kemudian kembali bertanya, "apa kau akan merasa senang? Marah? Sedih? Atau kau tidak akan merasakan apapun?" Perlahan kedua mata Luna terbuka dan menatap teman sekaligus asistennya tersebut dengan tatapan sendu. Dia menatap Marinka yang memperhatikan dirinya dengan tatapan sedih sebelum menghela keras, dan kemudian menatap ke arah jendela yang masih menampilkan hujan deras diluar.

"Entahlah. Jika aku jadi dirimu ... aku tidak tahu apa yang akan aku rasakan, mungkin aku tidak dapat memproses semua itu dan menganggap apa yang kudengar sebagai suatu mimpi yang tidak akan nyata."

Luna tersenyum dan mengangguk. "Itu yang kurasakan saat ini. Jadi jika kau bertanya apakah aku senang? Kau sudah mendapatkan jawabannya."

"Maafkan aku Luna, aku tidak berpikir ... selama ini kau mendambakan sebuah keluarga jadi aku mengira kau ..."

Luna perlahan bangkit berdiri dari kursi. Tangannya mengusap perut dengan otomatis seraya berkata, "tidak masalah. Aku tahu kau peduli padaku." Dia menarik napas panjang, menyeka air mata yang berkumpul di sudut mata dan berkata, "sebaiknya kita menemui manajer pemasaran."

"Jika kau lelah dan ingin beristirahat, aku bisa meminta Sasha menemuinya."

Dahi Luna mengerut bingung. "Pertemuan ini cukup penting, kenapa aku harus meminta Sasha mewakilkanku?"

"Sudah. Dengarkan saja."

Alis Luna melengkung naik. Beberapa waktu lalu Marinka begitu tegas padanya untuk tidak mengabaikan kewajiban dan berkata bahwa dirinya memiliki banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan, namun sekarang sikap wanita itu bertolak belakang dengan ucapan yang diberikan pagi tadi. Walaupun begitu, Luna memilih diam dan mengikuti apa yang Marinka ingin lakukan. Dia tahu kalau saat ini temannya itu sedang berusaha mengalihkan dirinya dari berbagai macam pikiran yang berkaitan dengan Jackson Bardi serta asal-usulnya, dan Luna mengapresiasi itu semua. Dia bersyukur memiliki teman seperti Marinka dan Lucy, dan berharap pertemanannya dengan mereka akan terus seperti ini. "Kau tahu, jika aku terus memberikan pekerjaanku pada Sasha, semua orang akan berpikir kalau aku tidak becus dalam bekerja."

Luna's BeastyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang