BAB 20 - CAHAYA

1.5K 142 23
                                        


UPDATE!!!

Ayo semua merapat! Siapa yang udah nunggu chapter ini? mana suaranya?

Oke langsung aja ke cerita, semoga kalian suka dan happy reading 😁😁

Vote comment share

Follow recommend

Love,

DyahUtamixx

Jangan lupa berikan tip sebagai bentuk apresiasi kalian pada Luna Beasty dan supaya aku dapat terus bersemangat^^

Kalian bisa berikan tip lewat trakteer (@ dyah-utami2) atau lewat Karyakarsaku (@ DyahUtami25)😄😄

Kalian bisa berikan tip lewat trakteer (@ dyah-utami2) atau lewat Karyakarsaku (@ DyahUtami25)😄😄

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Luna menarik napas dan membuka kedua mata lebar secara bersamaan. Seluruh tubuhnya gemetar dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Jantungnya berdegup dengan begitu cepat, napasnya pun tersengal seolah baru saja melakukan lari marathon. Terbangun dari tidur yang diisi dengan mimpi buruk bukanlah hal yang ingin dia rasakan saat ini, terlebih jika mimpi buruk itu berkaitan dengan Alkrevas.

Perlahan dia bangkit duduk hingga selimut yang menutupi tubuhnya jatuh ke pinggang. Luna meraba meja nakas, menyalakan lampu tidur, sehingga kamar tidur yang semula gelap gulita, kini diliputi cahaya lampu tidur yang remang, namun tetap hangat. Dia menarik napas panjang, mencoba untuk menangkan degup jantung serta gemetar di tubuh.

Tangannya terangkat, menyugar rambut yang basah karena keringat dingin sebelum meremas selimut kuat. Kepalanya tertunduk dan manik cokelat gelapnya memperhatikan kedua tangannya yang masih terlihat gemetar. Luna memejamkan mata, dan seketika potongan akan mimpi buruk itu kembali hadir di kepalanya.

Segera saja dia tepis mimpi tersebut. kedua kelopak matanya kembali terbuka. Kali ini tangannya terulur meraih ponsel, mengecek jam yang tertera di layar, sebelum mematikan kembali ponsel dan berbaring. Kini matanya menatap langit-langit kamar tidur dan Luna tidak tahu apakah miimpi buruk tersebut manifestasi akan memorinya di masa lalu mengenai pertemuan pertamanya dengan Alkrevas, kejadian di kuil hutan suci, atau sekedar mimpi buruk biasa.

"Itu tidak akan mungkin terjadi ..." bisiknya pelan dan tangannya secara otomatis terangkat, menyentuh tanda klaim absolute Alkrevas yang menghiiasi sisi lehernya. Tubuhnya seketika merespon dengan sentuhan samar tersebut berupa gejolak dan setruman yang membuatnya semakin merindukan Alkrevas. Luna menghela pelan dna mengubah posisi menjadi menyamping.

Kini matanya menatap sisi lain kasur yang kosong. Belum lama sisi itu diisi oleh Alkrevas, dan hal tersebut terasa sudah begitu lama, bahkan seperti sebuah mimpi yang begitu indah. Luna menipiiskan bibir seraya memejamkan mata. Tangannya meremas ponsel semakin kuat sebelum melepas benda tersebut dan dengan tangan yang sama, mengusap perutnya lembut. "maafkan mama ... mama terlalu merindukan papamu, hingga mengganggu tidurmu, sayang ..." bisiknya dengan suara yang bergetar.

Luna's BeastyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang