Sequel dari Luna's Journey. Diwajibkan membaca buku pertama untuk mengerti dan paham alur cerita.
The Dark Fantasy Story
The Kingdom Series
(Book 2 : The Werewolf Kingdom)
《●●●●●》
Setelah menerima fakta bahwa soulmate yang ditunggunya tidak kunjung...
Ayo semua merapat! Siapa yang udah nunggu chapter ini? mana suaranya?
Oke langsung aja ke cerita, semoga kalian suka dan happy reading 😁😁
Vote comment share
Follow recommend
Love,
DyahUtamixx
Jangan lupa berikan tip sebagai bentuk apresiasi kalian pada Luna Beasty dan supaya aku dapat terus bersemangat^^
Kalian bisa berikan tip lewat trakteer (@ dyah-utami2) atau lewat Karyakarsaku (@ DyahUtami25)😄😄
Note : Chapter ini belum di revisi, maaf jika ada kesalahan dan tidak sesuai
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Luna membuka mata perlahan saat angin kencang berhembus, menerpa wajah dan sekujur tubuhnya hingga rasa dingin menusuk kulit. Dia menatap sekeliling dengan penuh tanya, kebingungan memenuhi pikirannya. Dalam ingatannya, dia masih jelas teringat berbaring di atas ranjang, merasakan sakit yang menusuk di seluruh tubuh, mengkhawatirkan keadaan bayinya hingga akhirnya kelelahan menguasai. Namun kini dia berdiri di tempat yang begitu asing, sebuah hutan yang tidak dikenali, membuatnya semakin tenggelam dalam kebingungan.
Dahinya berkerut sebelum mengerjapkan mata beberapa kali, berharap pemandangan di sekitarnya hanyalah ilusi atau mimpi buruk yang kembali hadir, tapi tidak. Hutan di sekelilingnya terasa begitu nyata—gelap, sunyi, dan penuh misteri. Udara terasa lembap dan dingin, membawa aroma tanah basah serta dedaunan yang membusuk. Tidak ada suara hewan yang menjadi penghuni hutan, tidak ada kicauan burung, hanya keheningan mencekam, seolah hutan itu mati dan tak berpenghuni. Kabut menyelimuti setiap sudut, membatasi jarak pandang matanya. Luna mencubit lengannya sendiri, sekali lagi memastikan apakah ini mimpi atau kenyataan. Ketika rasa sakit menyerang, dia mendesis pelan. "Nyata," bisiknya dengan nada tak percaya.
Luna menundukkan kepala, memperhatikan tubuhnya masih terbalut gaun yang sama seperti terakhir kali, kemudian tangannya perlahan mengusap perut yang mulai membesar, memastikan kandungannya baik-baik saja dan baru bisa bernapas lega saat merasakan gerakan bayinya di dalam perut, Setelah itu, dia menurunkan tubuh, tangannya meraba permukaan tanah yang tertutup lumut dan akar-akar kecil. Ranjang empuk yang tadi menjadi tempatnya berbaring telah hilang, digantikan oleh alas bumi yang kasar. "Ini sungguh tidak masuk akal," gumamnya pelan, suaranya terdengar asing di tengah kesunyian. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya pada keheningan.
Pandangannya menyapu sekeliling—pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, dahan-dahannya saling bertautan membentuk atap alami yang menghalangi cahaya matahari, membuat hutan yang sudah gelap semakin bertambah gelap. Akar-akar besar menjalar di permukaan tanah seperti ular raksasa, sementara tanaman merambat bergoyang pelan meski tak ada hembusan angin. Luna memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan detak jantung yang bertambah kencang.