Sequel dari Luna's Journey. Diwajibkan membaca buku pertama untuk mengerti dan paham alur cerita.
The Dark Fantasy Story
The Kingdom Series
(Book 2 : The Werewolf Kingdom)
《●●●●●》
Setelah menerima fakta bahwa soulmate yang ditunggunya tidak kunjung...
Ayo semua merapat! Siapa yang udah nunggu chapter ini? mana suaranya?
Oke langsung aja ke cerita, semoga kalian suka dan happy reading 😁😁
Vote comment share
Follow recommend
Love,
DyahUtamixx
Jangan lupa berikan tip sebagai bentuk apresiasi kalian pada Luna Beasty dan supaya aku dapat terus bersemangat^^
Kalian bisa berikan tip lewat trakteer (@ dyah-utami2) atau lewat Karyakarsaku (@ DyahUtami25)😄😄
Note : Chapter ini belum di revisi, maaf jika ada kesalahan dan tidak sesuai
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mendengar ucapan Beta Zennon yang penuh akan ketegangan, Luna langsung bergegas menghampiri ranjang dimana soulmatenya berada. Napasnya seketika tertahan melihat wajah pucat Alkrevas dengan nadi yang menghitam pekat dan semakin menyebar. Kedua kaki Luna terasa begitu lemas. Ingin menangis rasanya pun air mata tidak lagi dapat keluar karena dia terus menerus menangis.
Tidak ada yang bisa mendeskripsikan perasaan Luna. Hancur? Bingung? Sedih? Perasaannya begitu campur aduk hingga terasa seperti gumpalan penyakit yang semakin lama semakin membesar. Dadanya terasa begitu sesak. Tiap tarikan napas yang diambilnya, terasa begitu menyakitkan. Sesuatu bergejolak di dalam dirinya, menusuk-nusuk jiwanya. Dia tidak tahu apakah semua ini efek dari matebond, ataukah dari rasa kegelisahan dan ketakutan melihat Alkrevas terbaring tak berdaya seperti ini.
"Aku tidak bisa kehilanganmu ..."
Kemudian Luna memejamkan mata erat. Berbagai macam pertanyaan silih berganti hadir di dalam benak kepalanya. Bagaimana bisa Alkrevas seperti ini? Bukankah pria itu seorang Lycan—Makhluk terkuat di Khthon? Dan apa yang baru saja dirinya dengar? Detak jantung Alkrevas sempat terhenti? Jelas sekali dia baru melihat Alkrevas. Berdiri di depannya. Tersenyum sambil memanggil dirinya. Setelah semua janji yang pria itu berikan padanya. Apa dia akan kembali merasakan rasanya ditinggal dan hidup sendirian?
Tidak. Tidak bisa.
Aku tidak bisa mempercayai kalimat itu. Apa mereka menyerab begitu saja? Kaisar yang mereka agungkan?
Perlahan kedua mata Luna kembali terbuka dan dengan kekuatan yang tersisa, Luna berjalan menghampiri. Seluruh tubuhnya gemetar. Ketakutan menyerangnya bertubi-tubi. Dia tidak bisa kehilangan Alkrevas. Tidak disaat dia mencintai pria itu, tidak disaat dia belum meminta maaf atas ucapannya pada pria itu. Tidak disaat dia belum merasakan kebahagiaan menjadi orang tua baru bersama Alkrevas.
Bibir Luna bergetar dan matanya memanas. Secara mengejutkan air mata yang dikiranya telah mengering, kembali mengalir keluar deras membasahi pipinya. Dia jatuh terduduk di sisi ranjang, lalu meraih tangan Alkrevas yang begitu dingin.