32. Kamu Selamanya Hidup dalam Diriku

1.3K 159 49
                                        

A great big bang and dinosaurs
Fiery raining meteors
It all ends unfortunately
But you're gonna live forever in me
I guarantee, just wait and see

Parts of me were made by you
And planets keep their distance too
The moon's got a grip on the sea
And you're gonna live forever in me
I guarantee, it's your destiny
.
.
John Mayer - You're Gonna Live Forever in Me
.
.
.
.
.
.

Aku pernah membaca sebuah kutipan dari orang bijak, bahwa ketika hidup kita terasa sulit, maka sekecil apapun kemungkinan rasa bahagia akan rela kita kejar. Mungkin itu yang terjadi padaku dan Yudhis dua bulan ini. Kami berusaha sekali memunguti hal-hal kecil dan sederhana hanya untuk merasa lebih baik. Iya, sekecil mengingat kenangan manis yang membuat kita kuat atau sesederhana menikmati waktu di atas ranjang karena kami sama-sama tidak mampu bangkit. Bukan bermaksud membohongi diri, kami hanya ingin menjaga perasaan dua bayi yang ada di dalam perutku. Perkembangan mereka merupakan tanggung jawab kami, meski kondisi kami begitu sulit untuk dikatakan nyaman.

"Nggak apa-apa kalo kita sama-sama nggak bisa bangun, kita duduk atau tiduran gini aja kayak sekarang. Kita cari bahagia kita di sini, kita kumpulin hal-hal kecil yang bisa kita syukuri. Kita aja, berempat."

Perkataan Yudhis sewaktu kami berada di titik terendah, cukup meringankan perjalanan kami belakangan. Mendapati bahwa kanker kembali datang - kali ini di saluran pencernaan Yudhis - dengan lebih agresif dan menyebar ke paru-paru, sempat membuat kesehatanku terganggu. Tekanan darahku meningkat karena aku tidak bisa menahan segala pikiran yang berkecamuk dan saling bertabrakan. Aku pikir, kabar buruk dari Yudhis kemarin akan berakhir sama dengan ketika pertama dia menyampaikannya di malam pernikahan kami. Yudhis akan melakukan pengobatan hingga sembuh, dan kami akan menjalankan hidup dengan normal lagi.

Nyatanya, pengobatan yang dia lakukan di belakangku, tidak membuahkan hasil. Dan aku harus menyaksikan bagaimana rasa putus asa itu sempat mengganggu Yudhis. Namun sekali lagi, Yudhis selalu mampu mengatasi semua kegelisahanku, termasuk menenangkanku dengan caranya. Padahal aku tahu, butuh perjuangan untuk dirinya sendiri berdamai dengan semua hal yang menimpanya. Dan setelah itu, kami melakukannya bersama demi kedua bayi kami.

Hingga hari ini, di saat aku pikir aku sudah bisa lebih tenang, ternyata ketakutan itu muncul lagi dan semakin besar bersamaan dengan kondisi Yudhis yang memburuk. Belakangan, Yudhis sering sekali mengeluh sesak nafas hingga bergantung pada selang oksigen. Dan hari ini, dia sama sekali tidak bisa bangkit dari tempat tidur karena tubuhnya yang melemah. Yang kulakukan seharian ini adalah berbaring di sampingnya demi membujuknya untuk pergi ke rumah sakit. Sayangnya, belum berhasil.

"Aku cuma butuh istirahat sebentar. Ini kayaknya efek kemo kemarin." Yudhis beralasan, padahal kemoterapinya sudah berlalu dua minggu lalu dan kalaupun sekarang ada keluhan, seharusnya Yudhis tahu kalau bukan itu penyebabnya.

"Iya, makanya kita istirahat di rumah sakit aja, Mas. Biar lebih terpantau." Kamar kami memang sudah nyaris mirip dengan bangsal di rumah sakit, dengan beberapa alat medis, tapi tetap saja tidak selengkap itu. Jika Yudhis butuh penanganan khusus, akan lebih tepat dilakukan di rumah sakit.

"Lebih nyaman di sini, Di."

"Di sana kan nyaman juga, kita tetep bisa tidur berdua." Beberapa waktu lalu kami bahkan mengganti ranjang rumah sakit dengan ranjang berukuran dobel agar kami bisa tetap tidur satu ranjang jika Yudhis butuh menginap di sana.

"Di sana nggak bisa lihat kamar twins."

Mataku seketika menatap ke depan ranjang kami, dimana nampak pintu geser yang menghubungkan kamar kami dengan kamar anak-anak terbuka lebar. Pintu sederhana yang semula direncanakan berganti dengan pintu geser setengah kaca yang cukup lebar hingga nyaris membuat dua kamar ini nampak menyatu. Yudhis memakukan tatap di sana. Di dua ranjang bayi yang sudah siap pakai dengan kelambu yang menutupi masing-masingnya.

DD/Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang