Jika senyummu saja bisa
Mencuri detak jantungku
Maka pelukkan mu yang bisa
Menyapu seluruh hatiku
Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti kau yang slalu kunanti
Takkan kulepas lagi
Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama
.
.
Raisa - Kali Kedua
.
.
.
.
.
.
Aku memeriksa meja kerjaku untuk terakhir kali. Layar komputer mati, tasku siap, tidak ada barang yang tertinggal, dan mejaku sudah rapi. Kemudian mataku kembali mengecek ponsel, menunggu notifikasi yang tidak muncul juga. Mungkin aku masih harus menunggunya? Aku mengangguk samar sembari berpikir apakah aku harus menunggu di kantin, ruanganku, atau--
Aku berdecak kesal.
Kenapa aku jadi seperti remaja yang berdebar menunggu kekasihnya untuk pergi berkencan? Tidak masuk akal. Pertama, aku sudah 35 tahun. Sudah lebih dari sepuluh tahun lalu masa remajaku lewat. Lalu, aku juga tidak sedang menunggu kekasihku. Aku hanya menunggu Gandhi yang katanya mau mengajakku makan siang lalu menghabiskan waktu bersamanya. Berdua.
Baiklah.
Gandhi bilang ini kencan. Tapi kata anak-anak, Gandhi hanya ingin mengajakku pergi berdua karena kemarin mereka pergi bertiga tanpa aku. Semacam acara pengganti agar aku tidak merasa iri atau kesal, katanya. Entahlah aku harus percaya yang mana. Yang pasti, Gandhi berhasil membuatku mengiyakan permintaannya untuk menunggunya menjemputku selepas jaga poli pagi ini. Dan sampai sekarang, ketika aku sudah selesai, Gandhi malah tidak ada kabar.
"Permisi, Dokter Didi." sapaan perawat yang kembali masuk ke ruangan, membuat pikiranku buyar. "Udah beres, Dok?"
"Udah, Teh. Habis ini mau dipake siapa?"
Biasanya mereka akan memastikan ruangan dan alat-alat dibersihkan petugas kebersihan sebelum digunakan kembali oleh dokter yang praktik selanjutnya.
"Dokter Rizal, Dok."
"Ya udah, saya duluan ya." pamitku sembari menyampirkan tas kecil yang kubawa. Hari ini aku diminta Gandhi memakai pakaian kasual karena kami akan lebih banyak berjalan. Dia sama sekali tidak berniat memberi tahu tempatnya, karena bagaimanapun aku mendesaknya, dia hanya tersenyum. Sayangnya, senyumnya merupakan senjata yang tidak pernah bisa aku lawan.
"Geura atuh, Dok." Nah kan, pikiranku kembali melantur hingga perawat menegurku. "Kan udah ditunggu dari tadi."
Eh, gimana?
"Siapa yang nunggu?"
"Dokter Gandhi atuh. Saya nggak boleh bilang sampe Dokter beneran selesai, ceunah."
"Gandhi di depan?"
"Iya, dari setengah jam yang lalu kayaknya."
Aku nyaris ingin berdecak, tapi tahu tidak ada gunanya. Akhirnya aku segera keluar ruangan setelah kembali mengucapkan terima kasih pada perawat tadi. Tepat sekali, aku langsung melihat Gandhi sedang duduk di kursi tunggu pasien dengan tatapan ke arah ponsel. Aku benar-benar berdecak ketika melangkah ke arahnya, dia memegang ponsel tapi sama sekali tidak mengabariku. Belum sampai di hadapannya, Gandhi lebih dulu menatapku kemudian bergerak menghampiriku dengan senyumnya yang entah bagaimana caranya bisa menular. Aku bahkan lupa kalau baru saja berdecak karena tingkahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DD/
Romanzi rosa / ChickLitDD/ alias Diagnosis Banding, merupakan daftar kemungkinan kondisi yang memiliki gejala yang sama. *** Lima tahun menjalani hubungan yang manis, Diandra Alana Radinka selalu yakin bahwa Gandhi Wicaksana adalah lelaki yang diciptakan untuknya. Namun...
