16. Yudhis Yang Manis

1.2K 166 39
                                        

Holaa..

Sebelumnya aku mau ucapkan terima kasih untuk semua yg udah ngikutin cerita ini dari awal. Nyaris setengah jalan lhooo 🥰

Komentar kalian bikin aku kepikiran juga, emang ya, setiap orang tuh diciptakan berpasang-pasangan. Dan nggak ada pasangan yg tertukar, karna masing-masing kita akan milih yg sesuai dengan kriteria masing-masing juga.

Ada yg suka sama cowok kayak Gandhi dan sebel banget sama Yudhis, ada juga yg sebaliknya. Kalo aku sih favoritku tetep Mas Reno ya 🤭 siapa tuh Mas Reno?

Kalo semua orang tipenya sama, bahaya juga kan yaaa.. Rebutan yg ada.

Jadi, yok kita lanjut aja ceritanya.. 😁

Selamat membaca..

***

Aku percaya kamu
Melebihi apa yang orang katakan kepadaku
Aku percaya kamu
Tak peduli apa yang orang katakan tentang kamu

Yang kutahu, kau slalu sejukkan hatiku
Yang kutahu, kau slalu ada di saat ku membutuhkanmu
.
.
D'Masiv - Aku Percaya Kamu
.
.
.
.
.
.
"Oh, Dokter Yudhis yang jemput Didi. Nggak sekalian ikut magang di VK, Dok?" Dokter Bagas menyapa Yudhis ketika kami keluar dari ruangannya.

Siang tadi, selepas jaga pagi IGD, aku mengikuti Dokter Bagas mulai dari poliklinik, OK, hingga berakhir di VK. Semakin dekat dengan pendaftaran PPDS, aku semakin sering menyempatkan diri untuk lebih banyak belajar dunia kebidanan dan kandungan bersama Dokter Bagas yang baik hati.

Seperti kata Grace, aku seolah tidak pernah merasa lelah ketika berada di bagian obgyn. Padahal, delapan jam sebelumnya aku bekerja di IGD dengan pasien yang tidak sedikit.

Syukurnya menjelang makan malam, pasien terakhir Dokter Bagas yang melahirkan pervaginam sudah selesai ditangani. Karena kebetulan, aku ada janji makan malam dengan para sahabatku untuk merayakan kelulusan Dhana dalam seleksi masuk PPDS Bedah Saraf yang dia tuju. Begitu Dokter Bagas mengajak pulang, Yudhis mengabari kalau sudah menunggu di nurse station VK.

"Terima kasih, Dok. Sekarang masih nyaman jadi supirnya Didi, lebih menantang dan gajinya besar." Aku menggelengkan kepala ketika Yudhis membalas sapaan Dokter Bagas dengan asal.

"Eh, lucu ya dia, Di? Aku kira dia nih cool gimana gitu. Secara fansnya banyak banget di VK." Dokter Bagas tersenyum lebar. Apa barusan itu yang disebut jokes Bapak-Bapak? Karena aku tidak melihat lucunya sebelah mana.

"Oh ya? Baru tau nih aku, Dok." timpalku sembari meneliti reaksi Yudhis.

Ekspresinya mengingatkan aku pada Yudhis ketika SMA, super-cuek. Tanpa aku sadari kalau semua itu karena rasa sayangnya yang selalu tertuju padaku. Kalau dipikir-pikir, aku seperti tidak bersyukur memiliki Yudhis dalam hidupku. Dia yang selalu ada di setiap fase hidupku dan tidak pernah berubah meski hidup kami sudah berjalan sejauh ini.

Bukan aku menyesali kisahku dengan Gandhi, sama sekali tidak. Aku hanya membayangkan perasaan Yudhis selama ini. Dia yang selalu menginginkan aku, sedang aku memilih orang lain. Atau bagaimana dia tetap di sisiku di saat tidak ada harapan apapun di sana. Pemikiran itu membuatku menyadari ketulusan Yudhis.

"Iya lah, Didi kan cuma merhatiin Gandhi."

Eh? Celetukan Dokter Bagas membuat aku dan Yudhis bertukar tatap. Perasaan bersalah seketika hadir dalam dadaku yang baru saja menyadari pentingnya kehadiran Yudhis dalam hidupku.

"Eh? Salah ya?" Dokter Bagas melirik kami bergantian, sepertinya menyadari reaksi canggung kami berdua. "Oalah, maaf-maaf. Kebanyakan main sama ibu-ibu jadi kurang peka sama anak muda. Jadi kalo Dokter Yudhis rencana ambil apa?" lanjutnya seketika mengalihkan obrolan kami yang nyaris berubah kaku.

DD/Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang