45. Cinta yang Bermuara

2.3K 157 83
                                        

Kupu-kupu yang lucu
Kemana engkau terbang
Hilir mudik mencari
Bunga-bunga yang kembang
Berayun-ayun pada tangkai yang lemah
Tidakkah sayapmu merasa lelah

Aku bertepuk tangan semangat ketika Danta dan Divya berhasil menyelesaikan penampilannya dengan sempurna, sebelum mengusap air mata dengan tisu yang sudah kusiapkan sejak anak-anak mulai tampil. Kebiasaan, karena aku tidak pernah bisa menahan air mata saat menyadari bahwa keduanya bertumbuh dengan baik.

Entah apa yang membuat keduanya berubah pikiran, mereka akhirnya setuju untuk tampil di pentas perpisahan. Seperti keinginannya, Divya berhasil memerankan kupu-kupu sedang Danta menjadi tim paduan suara, hal baru untuknya. Lagi-lagi aku harus menyeka air mata yang jatuh karena mereka melakukannya dengan sempurna di mataku.

Mereka begitu mengagumkan.

Aku masih ingat sekali bagaimana keduanya menangis kencang ketika berada dalam pelukanku dan Yudhis untuk kami hangatkan. Mereka begitu kecil dan rapuh karena berat badan yang sedikit di bawah normal. Aku juga tidak pernah lupa bagaimana tenangnya mereka ketika terakhir kali kami tidur siang bersama. Dan sekarang, mereka sudah bisa melakukan banyak hal, bukan sekedar menangis atau tertidur saja.

Pemikiran itu membuatku membayangkan betapa bangganya Yudhis pada Danta dan Divya. Dia pasti akan menjadi Papa yang bertepuk tangan paling kencang di antara ayah lainnya. Dia juga akan tersenyum paling lebar saking bangganya. Dan ketika mereka dengan mudah menemukan kami ketika melambaikan tangan sebelum undur diri, Yudhis akan membalas dengan lambaian tangan paling antusias. Yudhis juga akan ikut menyambut mereka dengan pelukan hangat ketika keduanya turun panggung. Bukan hanya aku yang memeluk keduanya dengan dua tanganku.

Dan selama beberapa saat aku terpaku karena bayangan itu terasa begitu nyata. Ada seorang lelaki yang ikut tersenyum sepanjang penampilan Danta dan Divya, dia juga ikut bertepuk tangan kencang ketika pentasnya selesai, dia melambai tinggi agar keduanya mudah melihat kami, dan ketika mereka turun dari panggung, ada dua lengan yang ikut menanti hingga Divya bisa memelukku erat, sedang Danta menghampirinya dengan pelukan yang sama.

"Kalian keren banget! Mas Ata suaranya bikin Om pengen ngulang lagunya terus. Kalo Ivy jadi kupu-kupu paling cantik yang pernah Om lihat. I'm proud of you!"

"Makasih ya, Om." Divya mengecup pipinya, manis sekali.

"Kalo Om mau, nanti aku nyanyiin lagi di rumah." Danta berhasil membuatnya tertawa.

Lelaki itu bernama Gandhi.

Lelaki yang kehadirannya jelas merupakan anugerah bagi kami. Dia dengan segala usaha, ketulusan, dan kelembutannya, mampu menghadirkan sosok ayah untuk Danta dan Divya tanpa menghapus Yudhis dari hidup mereka. Dia dengan cinta yang tidak pernah berubah untukku, mampu membuatku yakin untuk kembali mencintai tanpa menghilangkan cinta Yudhis dari hatiku. Air mataku kembali menetes karena haru.

"Tuh, kan, Mima nangis terus." suara Danta membuatku terkekeh.

"Mima seneng banget lihat Mas sama Ivy tadi. Keren!" balasku, aku menatap ketiganya bergantian dengan senyum dan mengucapkan terima kasih tanpa suara pada Gandhi yang ikut menyeka pipiku.

"Terlalu seneng?" Danta bertanya lagi, yang aku jawab dengan anggukan.

Aku tahu, anak lelakiku ini sangat perasa. Dia tidak nyaman ketika melihat siapapun menangis, karena baginya tangisan adalah tanda kesedihan. Namun entah kenapa kali ini dia justru tersenyum dan beralih memelukku. Tangan kecilnya mengusap wajahku dan menciuminya berulang kali, membuatku harus kembali menahan air mata karena perlakuan manisnya mengingatkanku pada Yudhis.

"Mau kemana kita habis ini? Biar Mima nggak nangis lagi." tanya Gandhi, mengalihkan perhatian mereka sekaligus membuat suasana sendu memudar.

"Boleh beli es krim nggak, Mim?" Usul Divya membuat aku dan Gandhi saling melirik kemudian tertawa.

DD/Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang