43. Bukan Ayah Pinjaman

1.2K 157 20
                                        

Dialog dini hari
Kepada diriku sendiri
Tak bisa ku tertidur lagi
Melayang pikirku tak pasti

Dialog dini hari
Resah gelisah mengiringi
Berharap ada yang mengerti
Berharap kau ada di sini
.
.
Yura Yunita - Tenang
.
.
.
.
.
.

Gandhi Wicaksana
Mim, besok aku ke Bandung
Ada jadwal wawancara pagi
Makan bareng mau?
Aku bisa ke Prama Medika

***

"Aku nggak mau ikut graduation."

Siang tadi, aku mendapat laporan dari wali kelas Danta dan Divya kalau Danta menolak ketika diajak berbagi peran untuk pentas kenaikan level dan perpisahan. Ini bukan pentas pertama bagi keduanya, karena mereka sudah hampir dua tahun bersekolah di sana. Dan sekolah mereka cukup sering mengadakan acara pada setiap hari khusus. Namun entah kenapa, Danta yang biasanya selalu bersemangat, tiba-tiba enggan. Dan keengganan itu diikuti oleh Divya yang memang selalu mengikuti saudaranya.

"Kenapa, Mas Ata?" tanyaku hati-hati ketika kami mengobrol menjelang tidur.

"Nggak apa-apa. Aku kan masih sekolah di sana, jadi nggak perlu ikut graduation." Alasan yang sebenarnya masuk akal. Tapi ini Danta, anak yang senang sekali menghibur orang lain karena sangat mengidolakan Yudhis yang temannya di mana-mana. Jadi, aku masih penasaran. Apalagi dia mengucapkan kalimat itu tanpa mau menatapku.

"Oke, nggak apa-apa. Kalo Ivy, kenapa nggak mau ikut juga? Mima dengar Ivy ditawari peran kupu-kupu cantik lho. Ivy kan suka sekali kupu-kupu. Kata Miss Intan, nanti Ivy diizinkan lukis sayapnya sendiri." Aku memperhatikan reaksi Divya.

Berbeda dengan Danta yang begitu yakin akan keputusannya, Divya seketika menggigit bibir setelah mendengar ucapanku. Tanda kalau dia ragu. Jelas sekali, jika Danta mungkin punya alasan kuat, maka Divya memang hanya ikut-ikutan. Karena itu, aku tidak mendesak Divya. Aku perlu menggali lagi dengan hati-hati apa yang sebenarnya dirasakan Danta.

Namun tidak sekarang. Aku tidak ingin Danta merasa tertekan dengan pertanyaan-pertanyaanku karena tanpa aku mendesaknya, suasana hati Danta yang buruk sudah jelas terlihat. Aku sangat mengenal keduanya. Danta persis sepertiku yang tidak suka didesak ketika sedang mempunyai masalah.

"Ya udah, nanti kalian pikirin lagi ya. Miss Intan bilang, pentasnya masih lama kok, jadi kapan aja kalian bisa ikutan." ujarku.

"Aku tetep nggak akan ikut." balas Danta sembari menaikkan selimutnya ke dada.

"Iya. Kalo gitu, sekarang kita tidur ya. Besok sekolah lagi, habis itu libur."

Aku memeluk dan mencium Divya sebelum beranjak menuju tempat tidur Danta untuk menemaninya tidur. Setiap malam, aku memang bergantian menemani keduanya. Tapi malam ini aku bersyukur karena bisa berdekatan dengan Danta yang sedang nampak gelisah. Biasanya, tidak butuh waktu lama untuk keduanya langsung tertidur. Berbeda dengan malam ini, Danta masih terjaga dengan mata yang menatap lampu tidur bintang-bintang di atas kamarnya.

"Mas Ata tau nggak kalo Papa tuh kadang iseng? Sampe bikin Mima kesel." bisikku ketika Divya sudah nampak pulas.

"Oh ya?" Aku berhasil membuat Danta mengalihkan perhatian.

"Hm, hm. Tapi Papa juga yang paling jago  bikin keselnya Mima hilang. Bukan cuma kalo lagi kesel, tapi juga kalo Mima gelisah, Mima lagi bingung, atau perasaan Mima nggak nyaman."

"Papa selalu keren. Gimana caranya, Mim?"

"Sini, Mima tunjukin." Aku menarik pelan tubuh Danta hingga berada dalam pelukanku, tangan kecil Danta juga ikut melingkari pinggangku. "Papa selalu peluk Mima. Terus Papa akan bilang, Papa ada buat nemenin Mima menghadapi apapun yang bikin Mima marah, kesel, gelisah, atau nggak nyaman." Selama beberapa saat, aku tidak berkata apapun lagi selain mengusap punggung Danta perlahan, berusaha menenangkan apapun gelisah di kepalanya. Aku bisa merasakan pelukan Danta mengerat, persis seperti yang kulakukan setiap Yudhis memelukku. Aku merasa bisa meluapkan apapun di pelukannya, termasuk segala emosi burukku. Jadi aku berharap hal yang sama bisa dirasakan Danta.

DD/Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang