40. End

864 57 9
                                        

Di part terakhir ini, tidak terlalu banyak seperti part sebelumnya. Aku harap kalian suka dengan bagian akhir ini, dan selamat membaca~~~


°°



Audi tertunduk lemas, air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Penjelasan dokter barusan membuatnya hampir gila.  Anaknya yang selama ini terlihat baik-baik saja dan bahkan sanga periang di depannya, ternyata begitu rapuh. Sebagai ibu, Audi mengutuk dirinya sendiri sudah lalai menjaga dan merawat titipan Tuhan ini untuknya dengan baik. Bahkan dirinya tidak sedikitpun tau persoalan sakit yang dialami putranya.

" Hiks...." Isak tangis itu terus terdengar.

Di tempat yang sama. Mahen dan Joen menyandarkan diri ke dinding dengan wajah pucat, tidak bisa berpikir jernih lagi. Sedang Jibran terduduk dilantai sambil meringkuk dalam menyembunyikan wajahnya, panggilan masuk di handphonenya pun terabaikan begitu saja.

Hari ini, bukan lagi menjadi hari bahagia untuk merayakan suksesnya pertujukan mereka. Namun sebaliknya, menjadi hari yang paling menyakitkan.

Jeri berjalan dengan mata sembabnya menghampiri sang ibu setelah membeli air mineral atas suruhan ayahnya. Ia sempat melirik kearah teman-teman yang kacau saat ini, namun Jeri tidak tau harus berbuat apa.

" Minum dulu yuk, ma." Minta Jeri dengan lembut, tanpa dijelaskan Jeri sudah tau jika ibunya ini tidak akan menerimanya. Dan benar saja, ibunya itu terlihat mencari seorang. " Ayah lagi ngurus administrasi." Jelas Jeri sudah mengerti tanpa dijelaskan.

" Kak...." Audi memanggil dengan nada sendu. Jeri segera memeluk ibunya itu, dan membiarkan tangis itu kembali pecah.

Malam ini, akan menjadi malam yang panjang. Semua akhirnya tau dua kenyataan pahit dari dua bersahabat yang sama-sama pintar menyembunyikan rahasia masing-masing.

Haikal, divonis mengidap kembali penyakit lamanya hampir setahun lamanya. Tidak ada dari mereka tau persoalan, setelah sekian lama Jibran orang pertama di antara mereka yang baru menyadarinya. Di saat bersamaan, mereka akhirnya mengetahui jika Renza mengidap depresi dan Panic attack.  Hal itu juga ternyata menyebabkan kecelakaan yang terjadi pada Renza dan Joen. Karena sebelumnya, tanpa sepengetahuan Joen, Renza mengonsumsi obat anti depresi dan cemas secara berlebihan.


_

Tanpa terasa dua hari berlalu.....
Renza masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Sedangkan Haikal? Semua, termasuk Audi belum mengetahui bagaimana kabarnya sekarang. Dan sejak hari ini, handphone Haikal tidak pernah aktif lagi. Bahkan keluarganya pun tidak membalas pesan apapun dari mereka. Semua memakluminya disaat seperti ini

Jeri terduduk di kursi, menatap Renza memejamkan mata, tertidur dengan damainya. Semua ini terjadi setelah menerima suntikan, kalau tidak seperti itu Renza akan mengamuk tanpa henti.

Jeri sempat merasa Dejavu dengan keadaan ini. Melihat Renza dengan keadaan yang sama.

Sampai sekarang pun, belum ada siapapun kembali menjenguk Renza. Jeri, juga tidak akan mengizinkan teman-temannya datang hanya untuk melihat keadaan kacau Renza. Cukup mereka tau Renza yang periang dan nakal saja. Seperti yang dilakukan Haikal padanya dan yang lain.



_





_






Renza perlahan membuka mata, ruangan serba putih menjadi pemandangan yang pertama kali ia lihat. Tanpa diberitahu Renza sudah tau dirinya sedang berada dimana, rumah sakit. Bahkan ia sudah muak berada di ruangan ini.

Pertunjukan TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang