Hai semuanya, akhirnya setelah melewati fase Writer's block, extra Part Pertunjukan Terakhir selesai di garap~~~
Jadi bukan karena ceritanya gak selesai ya:) Maaf banget.
Selamat membaca dan semoga kalian suka.
•••••
Jeri mengambil dua buku self improvement di atas meja belajarnya, baru saja ia dibeli untuk diberikan pada Renza. Di depan pintu kamar Renza yang berada tepat di samping kamarnya. Jeri mulai mengetuk menunggu sang pemilik menyahut untuk menyuruhnya masuk. Jeri tersenyum lebar saat melihat Renza duduk di kursi belajarnya dengan tumpukan buku di depannya. Renza menoleh membalas sapaan itu dengan senyuman juga.
" Lagi apa?" Tanya Jeri melihat sebuah novel terbuka di atas meja belajar. " Ini aku beli buku baru, kamu pasti suka, Nza." Jeri menunjukan buku ditangannya dengan senang, dengan cepat menyingkirkan novel di depan Renza, meletakan buku di tangannya di sana.
" Kamu pasti suka ini, aku cari sendiri buku ini rekomendasi dari temenku." Jeri membanggakan dirinya, agar Renza memuji dirinya.
Selama dua tahun belakangan ini, Renza sudah menjalani pengobatan sejauh ini. Hingga bisa dilihat disekeliling Renza terlihat begitu banyak buku, sesuai anjuran " Tetapi membaca."
" Yang lain aja belom selesai dibaca udah dikasih buku baru aja." Renza geleng kepala sambil melihat dua buku di depannya. " Yakin beli sendiri?" Renza melihat kearah Jeri penuh keraguan.
" Iyalah, Nza! Siapa lagi coba? Kamu itu dari dulu dikasih perhatian sama saudara sendiri aja masih ragu." Oceh Jeri berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya. " Aku... "
" Aku itu ya, saudara kamu... "
Belum sempat Jeri melanjutkan kalimatnya, Renza lebih dulu menyambung ucapan Jeri. " Iya tau, gak usah di jelasin terus menerus."
Jeri terkekeh melihat respon kesal Renza padanya. " Yaudah, novel yang kamu baca barusan itu novel kemarin kan? Gak usah berkelak, jujur aja."
" Udah tau, masih nanya." Renza membuang muka, lalu meletakkan buku di depannya deretan buku lainnya. Terlihat semakin panjang.
" Udah dibilang jangan baca novel gitu!" Segak Jeri merasa khawatir. Bukan tanpa alasan, Jeri melakukan itu semua karena ia takut Renza akan terhanyut oleh alur cerita yang berakhir tragis itu. Ia takut Renza akan bersedih karena itu, dan parahnya ia takut Renza akan menjadi pendiam jika pikiran dan perasaanya terganggu. Hal itu sungguh sangat ia benci, karena butuh waktu yang lama baginya, keluarga, dan orang sekitarnya untuk mengembalikan Renza seperti sekarang.
Renza geleng kepala melihat Jeri yang setiap saat selalu ingin mengingatkan bahkan memarahinya. " Huh... Ayolah Jer, aku udah sembuh loh. Tenang aja, aku gak akan ngelakuin hal yang bakal nyakitin diri aku. Kamu tenang aja, aku sayang kalian. " Renza tersenyum lebar selebar mungkin agar Jeri mempercayai perkataannya.
Jeri mendengus, lalu beranjak dari duduknya. " Yaudah ayo turun, waktunya makan malam. Ayah sama Malam pasti udah nungguin."
Renza kembali tersenyum lebar dengan anggukan kepala mengiyakan ajakan Jeri.
Di lantai bawah, tepatnya di ruang makan. Terlihat Faisal sudah duduk di kursinya ditemani sangat istri, Audi. Keduanya menunggu kedua putra mereka untuk bergabung.
" Lama banget, tumben... " Ucap Audi melihat kedua putranya mendekat.
Faisal tersenyum kecil melihat istrinya. " Udah laper banget ya, ma? Duluan aja gak apa-apa. "
KAMU SEDANG MEMBACA
Pertunjukan Terakhir
أدب الهواةBercerita tentang Renza dan Haikal, dua sahabat yang sama-sama menyembunyikan rahasia besar demi tidak mengkhawatirkan orang-orang terdekat mereka. Bagiamana kisah mereka? Yuk dibaca:)
