Extra Part 2

80 11 1
                                        

•••••

Tak... Tak... Tak...

Renza mengetuk secara bergilir meja di depannya dengan ujung jari yang mengenai kukunya. Lamunannya semakin dalam setelah bertemun dengan Jibran seminggu yang lalu. Perasaan gusar yang tidak bisa di jelaskan, yang semestinya tidak seharusnya ia pikirkan terlalu serius karena bagaimana pun Joen adalah teman akrabnya semasa SMA.

Kalau di pikir secara ulang, Renza merasa hubungan ia dan Joen semakin menjauh semenjak hari itu. Karena ketidakhadiran itu menimbulkan rasa ketidaknyamanan saat mereka bertemu.

" Mikirin apa sih?"

Suara Jeri tiba-tiba terdengar tepat di sebelah telinga Renza, membuatnya terkesigap dalam lamunan.

" Kenapa gak ngetuk pintu dulu!" Kesal Renza, detak jantungnya seketika berdetak cepat seperti baru saja berlari sejauh 5kilo meter.

" Pintunya ke buka." Jeri menatap heran dengan reaksi berlebihan saudaranya ini. " Kenapa? Coba cerita kalau ada masalah jangan jadi beban pikiran kamu."

Renza menggeleng cepat. " Ada apa? " Ia memilih mengalihkan pembicaraan. Kalaupun ia ceritakan soal ini, mungkin akan menjadi cerita yang sama untuk kesekian kalinya.

" Yaudah kalau gak mau cerita, tapi inget jangan terlalu dipikirin. Kesehatan kamu lebih penting ya, Nza."

Jeri selalu berprilaku selayaknya saudara kandung pada Renza. Hal itu, terkadang membuat Renza ingin meneteskan air mata haru. Namun ia terlalu gengsi untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada Jeri seperti yang Jeri sering lakukan padanya. Namun terkadang, ia tunjukkan walau hanya tindakan kecil yang mungkin tidak terlalu berarti.

Jeri menganga kecil, lalu teringat tujuannya menghampiri Renza. " Oh iya, dua minggu lagi Kak Mahen pulang ke Indo. Mau oleh-oleh apa katanya?"

" Kak Mahen?" Renza memastikan dirinya tidak salah dengar.

Jeri mengangguk mantap mengiyakan.

Belum selesai Renza memikirkan akan bertemu Joen, kini dirinya dihadapkan akan kehadiran orang lain. Tapi jauh lebih baik dari itu, ia dan Mahen masih terbilang dekat dan tidak secanggung ia dan Joen.

" Gak perlu repot bilang Kak Mahen, pulang dalam keadaan selamat dan sehat aja, alhamdulillah."

" Yaudah, nanti aku bilangin gitu." Jeri mengangguk setuju, tanpa bertanya lagi karena bisa melihat Renza terlihat tidak nyaman dengan apa yang ia sampaikan barusan. " Oh iya, minggu ini gak ketemu Jibran?"

Renza menggeleng. " Sibuk, nanti sekalian ketemunya sama yang lain aja."

" Yang lain?" Tanya Jeri.

" Heumm... " Hanya deheman menjawab pernyataan Jeri.

" Owhh, ok." Jeri tidak berniat bertanya terlalu banyak, membiarkan Renza sedikit tenang dari kegelisahan yang terlihat jelas itu.

.
.
.

Jeri menatap bingung pada seorang di depannya, pasalnya orang di depannya ini sedang sibuk. Namun kini, malah bertemu di kafe miliknya.

Kafe miliknya kini semakin diminati anak muda saat ini. Sudah banyak perubahan yang dilakukan olehnya dan dibantu oleh Renza agar kafe ini tidak gulung tikar. Karena sudah banyak kenangan di dalamnya, dan sangat sayang jika harus ditutup.

" Katanya sibuk." Jeri segera melontar ucapan yang terbesit dibenaknya.

" Kata siapa?" Tanya Jibran cepat, ia baru saja duduk dan Beri sudah melontarkan ucapan itu seolah mereka sudah berkomunikasi sebelumnya.
" Kalau aku sibuk mana sempet mampir kesini." Sambung Jibran.

Pertunjukan TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang