Extra Part 3

67 13 0
                                        

~~~

Hari-hari berlalu begitu saja, hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu lagi anggota baru akan hadir di tengah-tengah keluarga ini. Semua persiapan sudah disiapkan sebaik dan selengkap mungkin, tidak ada yang tertinggal lagi.

Bahkan Renza dan Jeri, sebagai kakak tertua, sibuk jauh-jauh hari mencari perabotan untuk adik mereka.

Tidak hanya itu, bahkan kamar untuk sang bayi sudah siap dihuni. Kamar dengan nuasa biru langit, secara khusus diminta Audi. Bukan karena ia mengharapkan anak laki-laki lagi, tapi karena itu warna kesukaannya. Jadi tidak salahnya ia mewarnai kamar putri kecilnya yang akan hadir dengan warna kesukaannya. Tidak ada komplen sedikitpun dari ketiga pria tampannya, ketiganya selalu menyetujui keputusannya.

Namun kali ini, akan ada perdebatan kecil diantara mereka.

" Loh? Gimana ini? Ayah juga nanti mau keluar kota, siapa yang jagain mama?" Tanya Renza cemas
Raut wajah khawatirnya terlihat jelas. Apalagi ia baru saja mendengar kabar jika asisten rumah tangga mereka pulang kampung mendadak karena ada urusan keluarga.

Audi mengisyaratkan Renza dengan tanganya untuk duduk lebih dulu. " Kakak, tenang... "

" Ayah cuma satu minggu paling lama di luar kota." Jelas Faisal. Ia tau jika putranya mengkhawatirkan keadaan untuk beberapa hari kedepan. " Kan ada kalian, ayah jadi lebih tenang kerja. Ingat, ayah kerja untuk kalian juga sama adik bayi yang mau lahir. Oke, kakak? ngerti?" Faisal menunggu respon Renza yang sedari tadi gusar sendiri.

Renza diam, bingung harus menjawab apa lagi. Rasa tenang tak kunjung menghampiri, rasa gusar yang semakin membuatnya gelisah tak menentu.

" Heii... " Jeri mengebas tangan ke udara tepat di depan wajah Renza.

" Mulai deh khawatir sendiri, gak usah berlebihan!" Jeri sudah menghadapi situasi ini kesekian kalinya. Kedua orang tua mereka mungkin akan menenangkan, tapi tidak dengan dirinya. " Gak akan ada yang ninggalin tanggung jawab ini ke kamu sendirian! Lagian ada aku juga di rumah ini 24 jam, kalau ada apa-apa juga, eh... Jangan sampai deh. Pokoknya ada aku, jadi tenang aja, Nza." Jeri menjentikkan jarinya tepat dikening Renza hingga tersengar suara.

" Awww... " Renza meringis kesakitan.

" Kakak kok gitu?" Tegur Faisal, bingung dengan tindakan putranya itu.

" Sakit!!" Kesal Renza dan hendak membalas. Tapi Jeri lebih dulu berlari mengitari sofa tempat duduk mereka.

" Ohh bisa marah? Hahaha.... " Bukanya merasa bersalah, Jeri semakin menggoda Renza agar semakin kesal.

Faisal geleng kepala melihat tingkah keduanya, disambut dengan senyuman lebar Audi di sebelahnya.

Suasana kini berubah drastis oleh Jeri yang sangat memahami karakter setiap keluarga.

.
.
.

" Ayah hati-hati, yah. Ingat ada kami yang nunggunya ayah pulang, ada adik juga." Ucap Jeri sebelum berpamitan pada sang ayah yang akan pergi mengurus pekerjaan di luar kota setelah terjadi perdebatan kecil karena Renza yang mencemaskan semua ini.

Saat ini Jeri berada di bandara, mengantar sang ayah pergi mencari nafkah, sekaligus menyemangati dan memberi dukungan. Sang ibu tidak bisa ikut, dan tidak di perbolehkan sedangkan Renza memilih menemani di rumah.

" Iya kak, jangan lupa pesan ayah. Jangan ke mana-mana dulu, jagain mama." Balas Faisal ikut mengingatkan. " Yaudah ayah pamit, langsung pulang sana."

" Iya, Assalamu'alaikum. "

.

Jeri melajukan mobil sedan miliknya membelah jalanan yang cukup ramai malam ini. Untungnya tidak ada titik kemacetan selama perjalannya menuju pulang.

Pertunjukan TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang