Mata tajam itu beberapa detik terpaku pada objek yang terpejam di dalam bathub. Jendra menelan ludahnya kasar. Dia memilih membalikan tubuh menghadap pintu.
"Narumi!" panggilnya serak. Jendra berusaha mati-matian menormalkan suaranya.
Tidak ada jawaban. Narumi tidak menjawab. Wanita itu tetap pada posisinya semula. Ia tidak terganggu dengan keberadaan Jendra.
"Narumi!" Kali ini Jendra berbalik menghadap Narumi.
Tubuh wanita itu tidak bergerak, membuat Jendra memberanikan diri mendekat. Kemudian, berjongkok untuk memastikan keadaan Narumi dari dekat.
"Narumi!" Kali ini Jendra menyentuh bahu Narumi yang terbuka.
Cess! Kulit wanita itu terasa amat dingin. Jendra baru menyadari bibir menantunya kian memucat. Tanpa menunggu lebih lama, Jendra mengangkat tubuh polos Narumi dari bathub menuju ranjang.
Jendra meringis merasakan suhu tubuh Narumi yang begitu dingin. Ia segera meletakkan tubuh Narumi ke atas ranjang, lalu membungkus tubuh tersebut dengan selimut tebal yang tersedia.
"Apa yang kamu pikirkan Narumi sampai berendam malam-malam begini? Tubuhnya begitu dingin. Aku harus membungkusnya lagi," gumam Jendra seraya mencari selimut di lemari walk in closet.
Pria itu menemukan tiga selimut tebal dan langsung melapisi tubuh Narumi, sampai wanita itu terbungkus seperti sosis.
"Sepertinya, aku harus mengabarkan pada Malini." Jendra berinisiatif memberitahu Malini. Bagaimanapun, Malini harus tahu agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Halo, Mal."
"Ya, Jen. Ada apa?"
"Aku menemukan Narumi pingsan di kamar mandi. Sepertinya, dia berendam terlalu lama. Sekarang, aku sudah menyelimutinya, tetapi suhu tubuh anak ini masih sangat dingin. Dia hipotermia, Mal," jelas Jendra panjang lebar.
"Ya ampun, Jen. Aku belum bisa pulang sekarang. Masalah di kantor semakin runyam dan harus selesai malam ini. Kamu telepon Dokter Joni saja, Jen."
"Sudah. Tetapi tidak dijawab. Sepertinya, Beliau sudah tidur." Benar, sebelum menelepon Malini, Jendra sempat menelepon dokter keluarga mereka, namun Dokter Joni tidak menjawab panggilannya.
"Aduh, bagaimana, ya, Jen. Aku begitu khawatir dengan Narumi. Lakukan skin to skin saja, Jen, untuk menormalkan suhu tubuhnya."
"Baiklah, Mal. Kamu fokus saja pada pekerjaan kalau begitu. Aku akan menjaga Narumi dan menghubungi lagi nanti. Jangan dipaksakan, Mal, tetap jaga kesehatan kamu," ingat Jendra.
"Ya, Jen. Kamu tidak perlu mengkhawtirkan itu. Aku harus kembali, bye!"
"Humm."
Tut!
Jendra segera menyimpan ponselnya. Ia kembali masuk ke kamar Narumi dan memastikan suhu tubuh menantunya itu.
Masih di bawah normal ternyata. Jika begini, mau tidak mau, Jendra harus melakukan skin to skin. Pria itu membuka kaus hitamnya, lalu naik ke ranjang. Perlahan ia masuk ke dalam selimut yang membungkus Narumi.
Jendra berusaha mengenyahkan pikiran kotornya. Oke! Dia hanya melakukan ini sebagai pertolongan semata. Bukan modus atau mencari kesempatan dalam kesempitan. Sungguh. Walau ia tertarik sekalipun dengan Narumi, tetapi bukan dengan cara seperti ini.
Nyess!
Dingin. Suhu tubuh hangat Jendra mengalir ke tubuh Narumi melalui kulit mulusnya. Jendra membawa Narumi ke dalam pelukannya agar suhu yang dihasilkan lebih cepat menjadi normal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hangatnya Ranjang Ayah Muda
RomanceNarumi tidak pernah menyangka akan terlibat perasaan dengan mertuanya sendiri. *Cover bikinan temenku @dewandaru Banyak adegan 1821-nya. Bocil jauh-jauh sana!
