Special chapter Narumi's PoV

8.9K 148 0
                                        

Yang punya akun fizzo, boleh mampir di cerita aku yang baru. Judulnya 'Jadi Ibu Susu' sudah ada 17 bab di sana. Gak kalah seru sama yang ini. Dan tetep, temanya duda. 😄Napennya sama, ya, Da Mi.

Makasih yang udah mampir

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Makasih yang udah mampir. Yuk, kita lanjut pengantin baru kita!

-

"Sayang, laper!" Aku mengeluh pada Mas Jendra. Baru selesai dari kamar mandi. Tubuhnya yang hanya berbalut handuk dari pinggang sampai lutut saja.

Ya, kami sudah membersihkan diri ke sekian kali, sampai tidak sadar hari makin siang dan perut belum di isi sama sekali sejak pagi. Akibatnya, aku mulai merengek pada Mas Jendra yang masih terlihat baik-baik saja. Kan, curang! Sementara, aku sangat sulit berjalan. Bukan cuma selangkangan, seluruh tubuhku remuk redam. Mas Jendra menumpahkan segala hasratnya yang selama ini ia tahan.

"Mau makan di bawah atau layanan kamar?" tanyanya. Dia memakai training andalannya dari dalam koper. Tanpa atasan tentunya.

"Kalau bisa jalan sendiri, aku pengin gitu jalan-jalan. Ke Braga atau Asia-Afrika, tapi, kan, ini gak bisa. Sakit Mas Suami, ih! Mau ke kamar mandi aja gemeteran!" rengekku dengan bibir dimanyun-manyunin. Wkwkwk, bukan sengaja, tetapi reflek aja tuh bibir ikut maju kalo lagi mode rengek.

"Iya, iya, Sayang. Itu bibir jangan maju-maju, nanti mas kepengin lagi. Jadi pengin makan apa?" Mas Jendra sudah berbaring di sampingku. Ya, aku memang kembali bergelung dengan selimut. Setelah membersihkan diri dengan bantuan Mas Jendra, aku kembali berbaring.

"Sushi baked salmon sama sushi lobster salad, minumnya jus alpukat aja, deh. Tiba-tiba pengin buah ijo itu," jawabku riang. Membayangkannya, membuat ludahku nyaris keluar. Sesuka itu Narumi dengan sushi.

"Ok. Tunggu sebentar!" Mas Jendra segera menelepon layanan kamar. Dia memesan steik. Katanya,"mas butuh tenaga ekstra untuk percintaan kita selanjutnya, Sayang!" Sambing mengerling nakal.

Aku bergidik ngeri. Sisa percintaan beberapa waktu lalu saja masih terasa, ia malah sudah menginginkan lagi. Nafsu Mas Jendra sama aja gede kek juniornya. Beuh! Aku jadi ingat waktu pertama kali melihatnya shirtless seperti saat ini. Saat aku menginap di rumah mendiang Mama Malini untuk pertama kali. Aku yang haus tengah malam, turun ke bawah untuk mengambil minum, tetapi sialnya malah mendengar desahan Mama Malini dan Mas Jendra. Hahaha, sial! Sejak saat itu, aku berusaha menghindar, namun selalu terperangkap dengan Mas Jendra. Apa dia sengaja, ya? Apa aku perlu menanyakan hal itu?

"Kenapa bengong, Sayang? Kamu sedang membayangkan gaya baru?" goda Mas Jendra. Tangan besarnya mulai bergerilya menuju titik-titik sensitif tubuhku.

Saat ini, aku tidak berpakaian. Yaz dia tidak mengizinkan aku berpakaian selama di kamar. Jadi, aku memilih berbaring dan menutup diri dengan selimut tebal. Walau percuma, sekarang tangan pria itu sudah menjelajah ke selangkangan yang lagi-lagi sudah basah. Antara otak dan tubuh udah gak sinkron. Otakku jelas menolak, tetapi tubuhku mengatakan lain dan minta kembali dimanjakan.

Hangatnya Ranjang Ayah MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang