Mengingat insiden

7.7K 156 1
                                        

Akhir pekan, Jendra sengaja bangun lebih siang dari biasanya. Dia ingin menikmati libur dengan memejamkan mata lebih lama. Akan tetapi, tetap saja, tepat pukul 07.00 matanya terbuka.

Kemarin dia sampai jam sepuluh malam setelah mengantar Narumi pulang. Ya, Narumi memang tidak tinggal di apartnya lagi. Hanya beberapa hari pasca diculik, Narumi memutuskan kembali ke rumah Ibunya.

Ngomong-ngomong diculik, kadang Jendra masih khawatir pamannya kembali mengusik Narumi. Walau Ghakean sudah sembuh, pamannya itu tetap menaruh dendam.

Dua tahun lalu, saat pulang dari pertemuan dengan Janu di tempat Abed. Jendra dan Narumi pulang ke apart. Ketika itu, Jendra sedang menyiapkan makanan untuk mereka di kitchen island. Tiba-tiba, bel apartmennya tak berhenti berbunyi.

"Biar aku yang buka, Pa," usul Narumi. Dia beranjak dari stool bar untuk membuka pintu. Namun, setelah dua menit, tidak ada tanda-tanda Narumi kembali.

Jendra segera menyusul ke depan, akan tetapi dia tidak menemukan siapa pun. Hanya bekas eskrim yang sudah meleleh di depan pintu. Hati lelaki itu mencelos. Dia segera berlari menuju lift, tepat ketika pintu besi itu tertutup, tampak Narumi yang sudah tidak sadarkan diri di gendongan orang berbadan kekar.

Jendra menggeram marah. Dia menuruni tangga darurat untuk menyusul lift tersebut. Sepuluh lantai cukup membuat napasnya tersengal. Tepat di parkiran, matanya menemukan dua orang berbadan besar itu masuk ke sebuah van berwarna grey metalic.

"Shit!" umpat Jendra.

Dia segera menelepon orang-orangnya untuk mencari keberadaan van tersebut. Untung ia sempat menghapal plat kendaraan dan berharap itu asli.

Jendra kembali ke atas. Dia menunggu orang-orangnya bertindak. Tiga puluh menit kemudian, barulah ada kabar dari salah satu bawahannya yang bilang mobil tersebut menuju kediaman Budiman.

"Shit! Paman berani bermain-main denganku. Lihat saja!" Jendra kembali mengumpat. Dia jarang mengumpat, tetapi jika sudah marah apa pun bisa terjadi. Termasuk pada pamannya yang berani menyentuh Narumi.

Lelaki itu segera mengambil jaket, dompet, dan kunci mobil. Dia juga menghubungi semua anak buahnya untuk menuju kediaman Budiman. Entah apa akan terjadi, Jendra siap-siap saja jika harus meluluh-lantakan rumah pamannya itu. Bukan hal mustahil.

Di kediaman Budiman, Narumi didudukan di sebuah kursi. Tangan dan kakinya terikat kencang. Ketika ia membuka mata, sosok lelaki tua menyeringai di hadapan terlihat mengerikan. Ya, dialah sosok Budiman.

"Emmhp ..." Narumi mendelik. Dia berusaha melepaskan ikatan pada tangannya, tapi percuma. Itu hanya akan membuat pergelangan tangannya memerah.

"Jadi kamu istrinya Ranjanu? Mantannya Ghakean? Hahaha, dunia sangat sempit sekali, ya? Kamu tahu, kenapa kamu di sini? Ya, tentu untuk membayar perbuatan suami kamu yang membuat Ghakean terancam cacat permanen," ungkap pria tua itu tajam. Dia berjalan mendekat, mencengkeram pipi Narumi hingga memerah.

Narumi menahan perih, saat kuku tajam pria tua yang tidak dikenalnya itu menancap di rahangnya. Ya Tuhan, ia berharap Jendra cepat datang. Bayangan sang ayah yang sering memukulnya dan ekspresi serupa membuat badannya gemetar.

"Sayang sekali, kulit mulusmu ini akan segera penuh sayatan. Kenapa menangis? Berharap Jendra datang? Jika pun dia datang, dia yang akan mati duluan," lanjut pria itu masih dengan membelai wajah Narumi yang telah basah.

Hangatnya Ranjang Ayah MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang