50. Jangan merendahkanku

1.9K 24 0
                                        

Apa aku tamatin aja ya? Hehehe


"Mas, aku, kok, ngeri, ya lihat tatapan karyawan kamu. Kek, yang benci banget gitu," ujar Narumi, setelah beberapa lama dia duduk di kantin itu. Sebab banyak pasang mata menatap sinis padanya.

Ia merasa tidak ada yang salah. Pakaian rapi, wajah masih shining, rambut gak awutan, tapi, kok, malah dipandang sinis. Narumi jadi bertanya-tanya, apa penyebabnya.

Sementara, sang suami yang lagi bahagia level akut, hanya menenangkan dengan senyumnya yang lagi-lagi bikin karyawati bersorak. Beuh! Narumi jelas kesal. Ia melayangkan tatapan setajam silet pada kumpulan perempuan yang menatap penuh minat ke arah Jendra.

'Apa lo! Kepengin punya laki spek malaikat kek gue, ha?' batin Narumi berteriak. Bibirnya dimanyun-manyunkan, malah membuat si para karyawati cengengesan. Bukan takut, mereka malah semakin berani terang-terangan.

"Sayang? Udah di makan itu ayamnya!" ingat Jendra. Dia tidak terlalu memperhatikan sekitar. Dunia hanya seputar Narumi dan makanan yang saat ini ia santap.

Jangan bilang Narumi bakal terganggu atau hilang selera. Ia tetap menggares ayam bakar madu yang dipesannya tadi dengan beringas. Ia cabik daging dari tulangnya dan menggigit dengan tenaga berlebih. Narumi mengibaratkan daging itu seperti wanita-wanita yang menatap suaminya tadi.

"Pelan-pelan, Sayang."

Jiah, si Jendra malah dengan sengaja membersihkan bumbu ayam bakar yang tertinggal di bibir Narumi dengan cara super ekstrem. Cium woi! Tambahlah sorak-sorai heboh. Bahkan, sebagian sudah memegang dadanya.

"Ya ampun, lemah jantung gue!"

"Pak Bos sweet amat!"

"Mau, dong, dibucinin Pak Bos!"

"Jomblo ngenes hanya bisa meratap!"

Dan masih banyak lagi sorakan kekaguman akan sosok bos mereka. Sementara, karyawan laki-laki hanya cuek bebek, tetapi hati mereka sebenarnya juga ketar-ketir. Ketar-ketir ketahuan si bos mencuri pandang ke arah istri bos yang imutnya kebangetan.

Narumi menatap sengit ke arah suaminya. Jendra seharusnya tidak melakukan hal itu di tempat umum. Jika hanya berdua, Narumi tidak masalah. Dia akan sangat senang hati menerima. Pasalnya, saat ini mereka jadi pusat perhatian. Kehadiran mereka yang tiba-tiba di kantin paling bawah itu saja sudah jadi perhatian, ditambah perlakuan sang suami malah tambah bikin ricuh suasana.

"Jangan cemberut, nanti mas nekat cium kamu di sini!" ancam Jendra dengan senyum lebar.

Narumi mendengkus kecil. Dia cepat-cepat menghabiskan ayam bakar ukuran besar itu. Sesekali mengelap mulut, takut-takut ada noda lagi yang bikin suaminya membersihkan dengan sapuan bibir.

"Sudah, Mas. Aku duluan!" Narumi hendak beranjak duluan, tetapi tangannya malah ditahan Jendra.

"Tunggu sebentar, Sayang."

"Cepet, Mas! Aku gak suka jadi pusat perhatian!" desis Narumi tajam. Matanya menyala-nyala ke arah Jendra.

Jendra yang menyadari istrinya tidak nyaman, seketika menyapu sekeliling kantin itu. Tatapannya berubah tajam, siap menebas siapa pun yang membuat istrinya tidak nyaman.

Deg!

Para karyawan meneguk ludah. Mereka pura-pura tidak memperhatikan keduanya. Kalau Jendra sudah menatap dengan tatapan membunuh, itu artinya peringatan pertama. Jangan ada kedua kali, tamatlah mereka semua.

"Ayo, mas sudah selesai." Jendra segera menggandeng Narumi keluar dari kantin diiringi tatapan iri wanita-wanita di sana.

Seperti diguyur seember air es, kepala Narumi terasa segar sekali. Telinganya pun plong setelah keluar dari kantin tersebut yang penuh dengan suara-suara sumbang terhadap dirinya.

Hangatnya Ranjang Ayah MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang