Jangan lupa bintangin, biar aku rajin update.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai tertinggi gedung itu. Narumi yang menyadari mereka sudah tiba berhenti memukuli bahu Janu. Ia melenggang lebih dulu, meninggalkan sang pemilik gedung.
"Hei! Mau ke mana?" tegur Jendra saat menyadari Narumi berjalan ke arah yang salah.
"Bukannya di sana, ya?" tunjuk Narumi pada ruangan paling ujung kanan di lantai itu.
"Ruangan saya di kanan. Di sana Direktur. Kamu mau bertemu Ghakean?"
"Ghakean siapa lagi, Pa?"
"Direktur di sini. Bawahan saya. Orangnya masih muda, ya, lima tahun di bawah saya," jelas Jendra datar.
"Terus hubungannya sama aku apa? Aku kemari, kan, jadi sekretaris Papa. Lagian, dia mau muda, sudah tua, juga gak ngaruh, Pa. Papa lupa, aku ini sudah punya suami, oke!" Narumi berbalik, menuju ruangan paling ujung koridor kanan. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti.
"Hahaha, sini, Naru!" Jendra malah berjalan ke arah kiri.
Narumi yang baru menyadari Jendra mengerjainya, berjalan cepat ke arah pria itu. Dengan bersungut-sungut, ia siap melayangkan pukulan pada bahu kokoh Jendra. Namun, ayunan tangannya terhenti, saat seorang wanita berpakaian ketat ke luar dari ruangan yang mereka tuju.
"Pagi, Pak Jendra," sapa wanita itu sensual.
First impression di mata Narumi, langsung buruk. Bahkan, sebagai sesama wanita, Narumi merasa kesal dengan cara berpakaian wanita itu. Kemeja ketat yang kancingnya nyaris terlepas karena menahan dada besarnya. Rok putih yang hanya menutupi bokongnya itu pun sangat tidak sopan.
"Pagi, ada apa kamu di ruangan saya?" Jendra memasang wajah datarnya kembali. Dia memandang lurus ke depan, tampak tidak terpengaruh dengan dandanan wanita di depannya.
"Ini, Pak, saya diminta Pak Ghakean menyerahkan file proyek kemarin," jawabnya terkesan ramah yang dibuat-buat.
'Mama Malini tahu, gak, ya, kalau Papa di kelilingi wanita seperti ini?' tanya Narumi dalam hati.
Narumi tidak sadar, dialah wanita yang menjadi orang ketiga itu. Terkadang, manusia lebih baik menilai orang lain tanpa tahu diri sendirinya tidak lebih baik.
"Oh, baik. Sekarang kembalilah ke ruangan Anda." Jendra melengos begitu saja, tanpa memperkenalkan wanita di belakangnya.
"Mari, Mbak!" ucap Narumi tersenyum tipis, sebelum ikut masuk ke ruangan Jendra.
Sementara, wanita bernama Revina itu mendengkus. Dia merasa kesal karena lagi-lagi diabaikan oleh Jendra.
"Siapa wanita itu? Apa dia sekretaris Pak Jendra? Sangat tidak layak!" gerutu Revina, lalu berjalan menuju ruangan atasannya di koridor kanan.
Sementara, di ruangan Jendra, Narumi tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Pa, itu siapa tadi? Memang pakaiannya seperti itu, ya?" tanya Narumi, ketika Jendra akan membuka pintu ruangannya.
Ruangan Jendra sendiri, terdapat dua ruangan. Pertama membuka pintu, kita akan disambut ruangan berwarna soft. Ada sofa dan meja berwarna cokelat muda dan meja sekretaris di salah satu sisinya. Barulah di pintu kedua, ruangan kerja Jendra berada. Ruangan itu cukup besar dari ruangan pertama tadi dan dominasi warna hitam putih. Sangat mencerminkan laki-laki.
"Dia sekretaris Ghakean. Dan cara berpakaiannya bosnya yang minta. Dulu, sekretaris saya, Hana, tidak seperti itu, kok," jelas Jendra memuka pintu ruangannya. Sontak aroma parfum maskulin Jendra menyeruak. Narumi pikir, sepertinya Jendra menyemprotkan ke segala arah parfum miliknya di ruangan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hangatnya Ranjang Ayah Muda
RomanceNarumi tidak pernah menyangka akan terlibat perasaan dengan mertuanya sendiri. *Cover bikinan temenku @dewandaru Banyak adegan 1821-nya. Bocil jauh-jauh sana!
