Reuni (48)

1.2K 19 0
                                        

Hehehe, aku datang lagi, jangan marah ya, baru post lagi. Soalnya, back up ilang. 🫠






Setelah pergulatan panas mereka semalam, Jendra dan Narumi kembali disibukkan rutinitas kerja seperti biasa. Pasangan pengantin baru itu pun terburu-buru karena bangun kesiangan, hingga bunyi gaduh memenuhi unit apartmen mereka.

Narumi hanya sempat membuat nasi goreng sosis seadanya. Tadinya, ia ingin membuat sandwich, tetapi bahan di kulkas hanya ada beberapa batang sosis saja. Selain itu, kosong melompong. Wanita itu berkali-kali berdecak sebal. Mereka gradak-gruduk begini karena ulah Jendra yang terus menghajarnya sampai pagi.

"Makan, Mas! Cepetan!" titah Narumi. Dia berdiri di depan Jendra untuk memasangkan suaminya dasi. Kali ini, Mas Jendra yang wajahnya semakin glowing dan bercahaya, menurut saja memakai kemeja putih berlapis vest navy. Dasinya navy bergaris putih. Dia malah senyam-senyum memperhatikan sang istri yang sedang fokus memasang dasi. Sementara, Penampilan Narumi masih berantakan, rambut sebahunya dikuncir asal. Ia mendahulukan sang suami yang kali ini akan menghadiri rapat direksi sejam lagi.

"Sudah, Sayang. Biarkan mas rapikan sendiri. Sekarang, kita segera sarapan. Kamu juga harus hadir, kan, nanti sebagai sekretaris mas," ingat Jendra.

Narumi menepuk jidat. Duh, dia hampir lupa. Dia bukan hanya menyandang istri, tetapi sekretaris Jendra juga. Bagaimanapun Jendra itu bosnya.

Narumi hanya mengangguk cepat dan segera menghabiskan nasi goreng sosisnya. Jendra hanya menggeleng-gelengkan kepala, merasa gemas melihat Narumi dengan mulut kepenuhan seperti itu.

Selesai sarapan, Narumi segera bergegas ke kamar. Dia harus berdandan rapi hari ini karena bertemu dengan banyak orang. Ya, setiap hari tentu akan bertemu banyak orang, tetapi hari ini berbeda. Rapat direksi dadakan yang baru diberitahu dua hari lalu untuk membahas Ghakean yang sudah siap kembali ke Bayangsara Corp.

Empat puluh menit kemudian, suami istri paling dibicarakan kemarin itu sampai di parkiran bawah tanah. Tidak seperti kemarin, Jendra memutuskan lewat parkiran seperti biasa.

Narumi sekali lagi memastikan penampilannya yang memakai setelan coklat muda. Jendra sempat protes, kenapa tidak memakai warna navy seperti dirinya, tetapi Narumi bilang, jika di kantor mereka tetap bos dan sekretaris. Jadi, Narumi lagi-lagi tak ingin jadi pusat perhatian.

Jendra memperhatikan seksama. Apalagi saat Narumi memoles kembali bibir tebalnya dengan liptin hingga menjadi basah. Pria itu meneguk ludah kasar. Dia selalu merasa tegang setiap melihat Narumi menggerakkan bibir sensual. Apalagi kalau sudah dimonyong-monyongin. Beuh, otak Jendra konslet dan inginnya ke ranjang saja.

"Kenapa, Mas?" tanya Narumi menangkap basah Jendra yang sejak tadi memperhatikannya.

"Gak papa. Yuk, naik! Kamu sudah cantik," jawab Jendra memutuskan pandangan. Dia membuka pintu lebih dulu, baru kemudian pintu Narumi.

"Makasih, Mas!"

Cup!

Narumi mencuri satu ciuman di bibir Jendra. Ia merasa harus memberikan hadiah kecil karena Jendra selalu memperlakukannya bak ratu. Setiap keluar dari mobil, Jendra yang membukakan pintu akan menahan sebelah tangannya untuk melindungi kepala Narumi agar jangan sampai terantuk. Perlakuan sederhana nan manis tersebut layak mendapatkan hadiah.

Jendra hanya tersenyum lebar. Kemudian, ia menyusul Narumi yang sudah berdiri di lift khusus eksekutif yang akan membawa mereka ke lantai paling atas gedung itu.

*

Wajah Jendra mengeras. Dia tidak senang mendengar para direksi yang seenak perut ingin mengembalikan posisi Dirut keuangan pada Ghakean yang sudah kembali dari Swiss. Namun, Jendra tidak bisa berbuat apa-apa karena sebagian besar pemegang saham itu dekat dengan Budiman, ayahnya Ghakean.

Hangatnya Ranjang Ayah MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang