Dilematis, dramatis!

48.5K 608 9
                                        

Wow, wow, cepet amay! Yok, 15 bintang aku post lagi. Karena baik hati dan tidak sombong, aku post lagi, nih!

Jan lupa follow dulu, biar tahu update terbaru!


Suasana yang tadinya hangat, berubah dingin. Narumi makan sendirian dalam hening, sedangkan Jendra pun begitu. Pria itu memakan mie buatannya di teras cotage. Ia tidak merasa kedinginan saat angin laut menerpa tubuh atasnya yang terbuka. Sembari memandang gelapnya pantai dan ombak yang hanya jelas suaranya itu, Jendra mengingat lagi pertemuannya dengan Malini tiga tahun lalu.

Tiga tahun lalu, sebelum ia menjadi CEO di perusahaannya sekarang. Jendra kebetulan hari itu ditugaskan orang tuanya ke sebuah perusahaan perbankan. Di sanalah, ia bertemu dengan sosok Malini yang dewasa dan masih sangat cantik.

Jendra lupa bagaimana wanita sepuluh tahun lebih tua itu menarik hatinya, tetapi yang pasti Jendra tulus mencintai Malini. Sikap tegas dan mandiri menjadi salah satu ketertarikan pria itu. Ditinggal sosok ibu sejak kecil, Jendra menemukan sosok itu pada Malini. Walau dalam artian berbeda tentunya.

Tanpa menunggu lama, sekitar pendekatan selama enam bulan, Jendra memutuskan melamar Malini. Sang anak tiri sendiri, Ranjanu, tidak banyak protes. Dia hanya pernah berpesan pada Jendra sebelum pria itu mengikat janji, untuk tidak menyakiti mamanya. Namun, kini, Jendra sudah mulai melupakan janji itu. Perasaannya perlahan berubah. Semudah itu, kah, perasaan manusia berubah saat pasangan mulai dimakan usia? Bukan, bukan itu yang Jendra rasakan. Istrinya belum berubah. Malini masih kuat di ranjang untuk memuaskannya, masih sangat perhatian dan mengurusnya dengan baik, tetapi perlahan perasaan pria itu terkikis seperti batu karang yang terkena ombak.

Katakan dia pria jahat, tetapi Jendra tidak bisa berbuat apa-apa saat perasaan asing itu perlahan hadir karena wanita berstatus istri dari anak tirinya. Dia kalah. Narumi telah mengambil separuh perhatiannya. Tiap menit, tiap waktu, Jendra ingin terus melihat Narumi, melindungi wanita itu, apalagi saat melihat perbuatan anak tirinya yang sangat menjijikan. Wow? Sangat hebat, bukan? Bukannya, Jendra pun sama. Berapa kali ia terlibat dengan Narumi dalam keadaan yang sangat intim, mungkin. Janu dan Jendra tidak berbeda, mereka sama-sama menyakiti wanita yang tulus mencintai keduanya.

Tiba-tiba angin berembus lebih kencang dari beberapa menit lalu, dibarengi kilatan-kilatan terang di balik awan. Jendra segera masuk ke dalam karena ia tidak ingin masuk angin jika berada di luar lebih lama.

Sesampainya di dapur, ia tak menemukan Narumi. Piring bekas makan pun udah di bak cuci piring dalam keadaan baru saja dicuci.

"Narumi pasti sudah masuk kamar," gumam Jendra melakukan hal yang sama, mencuci piring bekas mi tadi dan beranjak memasuki salah satu kamar.

Ceklek!

Jendra diam mematung melihat pemandangan di depannya. Memang bukan pertama kali, tetapi respon tubuhnya tetap menggila. Lelaki itu meneguk ludah, jakunnya turun naik menahan gejolak yang terus naik menuju ubun-ubun.

Sementara, si pelaku utama dengan entengnya melucuti pakaian tanpa sadar ada mata tajam yang akan menelannya bulat-bulat. Narumi, wanita itu hendak membersihkan diri. Karena ia tidak membawa baju ganti, jadi ia akan memakai baju itu lagi. Niatnya, sih, gitu. Kebetulan sekali, dari salah satu kamar yang ia masuki tadi, ternyata ada kamar mandinya. Jadi, ia tidak perlu keluar kamar makanya ia berani membuka tanpa takut ada yang melihat.

Hangatnya Ranjang Ayah MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang