Catherine membuka matanya. Mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu yang untungnya tidak terang—kuning hangat. Ia mengalihkan pandangannya kepada pria yang sedang duduk di pinggir tempat tidur, menghadap dirinya.
Ya, bukan mimpi, pikir Catherine setelah melihat wujud Evan di hadapannya. Duduk tegak menunggu Catherine dalam balutan kaos hitam dan celana panjang, juga rambutnya tampak sudah kering dan jatuh halus melewati matanya.
Badan Catherine yang terasa berat dan lemas ia paksakan bangkit sambil berkata, "Tunggu, ini bukan apartemenku." Catherine mengusap kedua matanya pelan dan mengerutkan keningnya melihat Evan yang sedang menatapnya datar dengan obat dan gelas air di kedua tangannya.
"Kenapa aku di sini?"
"Dan dimana Rory?"
Evan menghela nafasnya pelan, "Bisakah kamu meminum obat ini dulu. Setelah itu aku akan menjelaskannya," kata Evan dengan sabar.
Catherine tidak membuang waktu, ia mengambil obat dan meneguk air di gelas besar itu hingga habis tidak bersisa.
"Oke. Jelaskan," Catherine membersihkan mulutnya setelah menelan air banyak dalam satu teguk. Ia merapikan rambutnya singkat—merasa berantakan. Evan hanya diam memperhatikan sebelum ia mengatakan,
"Ini kamarku."
Catherine membulatkan kedua matanya mendengar jawaban Evan yang terdengar santai. "Kamar dorm?" tanya Catherine, tapi ia sendiri tidak yakin. Kamar ini terlihat terlalu luas dan mewah untuk ukuran apartemen bersama.
"Kamar pribadiku di rumah. Kamu sedang di rumahku, Mori." Catherine semakin membulatkan matanya. "Kenapa aku di rumahmu? Rory dimana?" protes Catherine menggebu.
Kali ini Evan yang mengerutkan keningnya dan berkata, "Kenapa kamu sangat sibuk mencari Rory?" terdengar protes balik.
"Err karena dia manajerku?" balas Catherine tidak mengerti maksud pria itu.
"Aku tadi datang ke ruanganmu saat Rory—manajermu, sedang kelihatan panik dan mengatakan kepadaku bahwa ia harus segera terbang ke New York malam ini. Kamu tertidur sangat lelap dan ia tidak enak membangunkanmu karena kamu sedang migrain. Jadi dia menitipkanmu padaku dan langsung pergi."
Catherine bingung. Ia akan memastikan hal ini pada Rory dan kenapa pria itu tiba-tiba harus kembali ke New York.
"Lagipula kamu sudah janji untuk bicara denganku," lanjut Evan.
"Ya, aku seharusnya membawamu ke apartemenmu tapi aku sudah malas berpikir, jadi aku bawa kamu ikut pulang ke rumahku. Terlebih lagi, badanmu sudah panas sejak aku membawamu dari lokasi syuting tadi." Catherine masih terdiam mendengar semua penjelasan Evan. Terutama mengenai Evan yang membawa dirinya— membuat Catherine menerka apa Evan yang menggendongnya.
"Rory juga sempat menitip pesan, katanya manajer Remi akan menggantikan sementara dan menjemputmu."
"Sekarang jam berapa?"
"Jam 9 malam." Evan melihat jam di dinding kamarnya. Catherine sedikit kaget karena artinya dia sudah tertidur hampir enam jam.
"Yeah, i don't think she's picking you up anytime soon," lanjut Evan sambil mengangkat alisnya.
"Aku bisa pulang sendiri kalau begitu. Tidak apa." Evan mengernyit mendengar balasan itu.
"Kenapa kamu selalu menghindariku, Mori?"
Evan kali ini tidak kuasa mengutarakan apa yang ingin ia katakan sejak tiga bulan lalu. Ia menatap Catherine serius, menyadari wanita itu bahkan menghindari tatapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MORE THAN YESTERDAY | DDEUNGROMI
RomanceCatherine tidak menyangka ia akan bertemu kembali dengan Evan. Kali ini keduanya bukan lah anak SMP lagi. Catherine, seorang aktris yang menjadi sorotan karena kehebatan akting-nya yang sangat menjanjikan dalam dunia per film-an. Evan, seorang binta...
