[Flashback field trip camping]
"Well, ada tiga hal," kata Ha-yoon mulai menceritakan pada Evan yang sangat tertarik untuk mendengar apa yang Catherine lakukan di sekolah lamanya sesuai cerita ibu tirinya, sang kepala sekolah.
"Kita mulai dari yang paling ringan. Dia melepaskan anjing milik salah seorang pemilik toko di belakang sekolah lamanya karena ia sangat yakin anjing itu disiksa oleh pemiliknya dan ia melihatnya sendiri. Jadi suatu hari, pulang sekolah, entah bagaimana caranya ia berhasil membawa anjing itu kabur."
Ha-yoon mangambil satu gigitan tusukan satenya dan mengunyahnya, namun Evan tidak sabaran, "Lalu?"
Lirikan tajam Ha-yoon membuat Evan menunggunya minum terlebih dahulu, "Catherine ketahuan karena cctv di teras toko menangkap dengan jelas momen ia membawa anjing itu pergi, dan pemiliknya langsung melapor ke pihak sekolah, meminta anjingnya balik."
"Catherine mengembalikannya?"
"Tidak. Ia memberikannya pada pemilik baru yang lebih pantas. Sepertinya setelah itu ayahnya memberi uang damai. Karena si pemilik juga takut dikenakan sanksi pidana jika perkara dilanjutkan."
"Orangtuanya mendukung?"
"Catherine sangat frontal dan kekeuh dengan alasan kenapa ia mengambil anjing itu dan ayahnya percaya. Kata ibuku, bahkan ayahnya sendiri ikut menemani Catherine membawa anjing itu ke dokter hewan lalu ke pemilik barunya."
"Tapi tentu saja, Catherine tetap mendapat teguran dari sekolahnya."
Evan terdiam sesaat dan berkata, "Lalu apa lagi?"
"Hmm," Ha-yoon mengingat, "Yang tadi cukup ringan dan sepele, tapi kali ini cukup serius."
"Dia mematikan mesin ferris wheel, membuat temannya terjebak di puncak teratas selama tiga jam lebih."
Ha-yoon dapat melihat mata Evan melebar setelah mendengarnya.
"Well, it wasn't a huge ferris wheel," kata Ha-yoon membela Catherine, "—like medium size, but yeah, still. That's kinda crazy," lanjutnya.
"I wonder how she did all that," Ha-yoon kembali takjub bagaimana Catherine bisa mematikan mesin ferris wheel.
"Why?" Evan sangat bingung.
"She just bullied back the bullys."
Ekspresi Evan tambah penasaran dan Ha-yoon menjelaskan, "The bullying was bad actually. Berulang kali hingga murid yang dibully pernah tenggelam dan masuk rumah sakit. Jadi Catherine mengancam mereka balik. Setelah itu ia mendapat peringatan dari sekolahnya, tapi setidaknya mereka berhenti dan tidak menganggu lagi."
"Guru-guru di sekolah itu benar-benar tidak begitu peduli dan Catherine tidak tahan."
Ha-yoon mengakhiri kalimatnya dan diam untuk sesaat sebelum melanjutkan cerita terakhirnya.
"Yang terakhir... it's quite heavy and a lot more serious. Karena itu ia akhirnya pindah sekolah."
"Singkat cerita, it's about sexual harassment and the perpetrators were the two teachers in her school."
Melihat raut Evan yang berubah horror, Ha-yoon langsung mengklarifikasi, "No, not her," katanya menggeleng cepat, "—the victim was another teacher."
"I don't really know the details of this because my mom refused to to tell the whole thing. But it was really bad that they had police came to investigate karena Catherine melaporkannya dan yakin kejahatan itu tidak hanya sekali. Tapi akhirnya, kasusnya tidak diperpanjang. They barely believed her and the victim's 'lack of evidence' they said, terlebih kepala sekolah berusaha keras menutupi dan menyepelekan masalah demi nama baik sekolah. Karena itu dua pelaku tidak diberi sanksi berat dan bahkan tetap lanjut bekerja agar para murid dan orangtua berpikir tidak ada yang serius. That's insane, they kept those criminals dan guru yang menjadi korban resign sambil membawa trauma besar."
KAMU SEDANG MEMBACA
MORE THAN YESTERDAY | DDEUNGROMI
RomanceCatherine tidak menyangka ia akan bertemu kembali dengan Evan. Kali ini keduanya bukan lah anak SMP lagi. Catherine, seorang aktris yang menjadi sorotan karena kehebatan akting-nya yang sangat menjanjikan dalam dunia per film-an. Evan, seorang binta...
