PART 24

264 38 2
                                        

[Musim Semi - April, 2015]

"Evan," panggil seseorang.

Mendengar namanya dipanggil, Evan yang sedang bermain piano mengalihkan pandangannya. Mendapatkan sang ibu yang berjalan menghampiri sembari merangkul seorang perempuan.

"Hae-rin?" kata Evan pelan.

Kim Hwa-young, ibu Evan, tersenyum lembut dan berkata, "Hae-rin mengatakan kalian mau kerja kelompok."

"Ah, benar. Ayo."

Keduanya jalan beriringan menuju ruang belajar Evan untuk menyelesaikan tugas biologi mengenai Ecosystems and Food Chains. Mereka memutuskan membuat sebuah model diagram dalam poster karton untuk dipresentasikan.

Perputaran murid dalam kenaikan kelas 3 menengah pertama dilakukan dan tahun ini Evan kembali sekelas dengan Hae-rin. Namun ia tidak lagi satu kelas dengan Ha-yoon. Ataupun dengan Catherine.

Ha-yoon dan Catherine satu kelas.

Semenjak field trip musim panas tahun lalu, tentu saja keduanya semakin seperti dua sahabat yang tidak terpisahkan. Apalagi kini keduanya ditempatkan di kelas yang sama. Ha-yoon membangkitkan kembali semangat Catherine untuk ke sekolah. Catherine juga semakin berbaur dan membuat teman baru lainnya. Sejak kejadian danau itu, mereka sejauh ini belum melakukan hal-hal aneh semacam itu lagi. Kecuali bagian Ha-yoon meletakkan tujuh cacing di atas meja Irene karena ia sengaja membuat Ha-yoon tersandung hingga jatuh saat pelajaran olahraga. Entah darimana Ha-yoon menemukan cacing itu, Catherine pun bingung.

Delapan bulan berlalu dan Evan masih menyimpan informasi rahasia yang Ha-yoon beritahu kepadanya, mengenai alasan Catherine pindah sekolah.

Ya, meletakkan tujuh cacing di atas meja musuh bukan apa-apa pikir Evan, mengingat apa yang Catherine lakukan di sekolah lamanya.

"Bagaimana kalau kita memilih ekosistem laut?" tanya Hae-rin kepada Evan yang sedang membaca buku pelajaran biologinya.

Anak lelaki itu mengangguk setuju dan keduanya mulai mengumpulkan materi juga merangkai informasi yang dibutuhkan.

"Aku dengar dari kelas sebelah Ha-yoon mendapatkan nilai tertinggi untuk tugas ini." Hae-rin mengganti topik pembicaraan mereka.

"Oh ya? Siapa partnernya?"

Hae-rin tersenyum tipis, "Tentu saja Catherine." Mengingat dua insan itu adalah satu paket.

"Aku dengar Catherine juga sangat pintar, terutama dalam setiap pelajaran IPA. Ha-yoon sepertinya terbantu banyak dengan keberadaan Catherine," kata Hae-rin, "—kita tahu nilai IPA nya selama ini tidak pernah bagus dan sering remedial," lanjutnya pelan.

"Apa kamu juga tidak suka dengan Ha-yoon seperti Irene?" Evan bertanya karena pernyataan akhir Hae-rin terdengar tidak enak di telinganya. Terdengar merendahkan.

Menyadari arti pertanyaan dan tatapan serius Evan, Hae-rin segera menggeleng, "Bu— bukan begitu maksudku. Irene memang temanku, tapi aku tidak sepertinya yang tidak mengukai Ha-yoon. Percayalah. Aku tidak bermaksud jelek. Maaf," balasnya cepat dengan ekspresi merasa bersalah atas ucapannya dan Evan hanya mengangguk.

Pengerjaan tugas kelompok tersebut kembali berlanjut normal dan santai hingga waktu menunjukkan pukul 4 sore. Setelah tiga jam berlalu, keduanya telah menyelesaikan tugas mereka.

"Teh ginsengnya sangat enak," puji Hae-rin, menikmati teh yang disajikan oleh pelayan di rumah Evan. Rasanya sangat seimbang, menunjukkan ginseng yang dipakai pastilah yang berkualitas terbaik.

MORE THAN YESTERDAY | DDEUNGROMITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang