PART 22

386 47 4
                                        

Evan menunggu beberapa detik sebelum ia memanggil Catherine yang tidak menyadari kehadirannya.

"Evan?"

Wajah Catherine terlihat basah karena tangisan dan Evan dapat melihatnya dengan jelas.

"Kenapa kamu di sini?" tanya Catherine menatapnya.

Evan masih diam, dan berjalan mendekati Catherine.

Memperhatikan wanita itu yang kini memasukkan beberapa barang dari kotak di tangannya ke dalam tasnya.

Catherine lalu berdiri namun pengaruh alkohol dari minuman tadi membuatnya hilang keseimbangan dan Evan dengan sigap menahan tubuh Catherine.

"Kamu minum?" tanya Evan sembari menopang kedua lengan Catherine.

Evan melihat meja di sebelahnya dan menemukan sebuah botol minuman yang isinya benar-benar hanya tersisa sedikit.

"Hmm. Sedikit," jawab Catherine, membuat Evan menghela nafasnya pelan karena wanita itu tampak mulai mabuk.

"Kenapa kamu di sini?" Catherine mengulang pertanyaannya kembali.

"Mengunjungi rumah teman lamaku."

"Siapa yang tahu kamu membutuhkan bantuanku lagi dan melihat kamu yang minum, aku tidak yakin kamu bisa pulang sendiri, Mori," lanjut Evan, masih menopang kedua lengan Catherine.

"Aku masih sadar dan sanggup pulang sendiri," protes Catherine yang sebenarnya juga berpikir, ya, mungkin dia akan butuh bantuan. Tapi Catherine mendegus pelan, "Aku pikir kamu marah kemarin. Dingin sekali. Dan bisakah kamu berhenti memanggilku 'Mori'. No one calls me that anymore, dan lagi it means hair in Korean. It sounds weird," celotehnya.

"Aku tidak marah," jawab Evan pelan, "Oke. Mori," lanjutnya dengan sudut bibirnya tersenyum. Tampak keras kepala bagi Catherine.

Wajah cemberut Catherine sangat menggemaskan, namun pipi basah wanita itu membuat tangan Evan kini terangkat untuk mengusap.

Ia tersenyum tipis dan menatap Catherine lembut, "Kamu masih ingin menangis?"

Catherine menggelengkan kepalanya, "Sudah cukup," katanya lalu melepas pegangan tangannya pada topangan lengan Evan dan berjalan menuju pemutar piringan hitam yang masih bermain, mematikan lagunya. Ia kemudian melihat sebuah piano akustik yang baru ia sadari keberadaannya. Merapat di dinding dan tertutup sepenuhnya oleh sebuah kain hitam besar.

Catherine menarik kain itu dan terdiam sejenak melihatnya.

"Kamu bisa bermain piano kan?" tanya Catherine mengingat Evan yang ia ketahui les piano dan pandai memainkannya dulu. Ditambah dengan video Evan menyanyi sambil bermain piano yang pernah Rory kirimkan padanya.

"Ini punya ayahku. Aku tidak terlalu bisa memainkan piano," lanjutnya.

Catherine membalikkan badannya dan mendapatkan Evan yang menatapnya, berjalan mendekat dan berkata, "Kamu mau aku memainkannya?" seolah mengerti dengan keinginan Catherine.

"Hmm," Catherine mengangguk.

Fallboard piano terbuka dan Evan menaikkan lengan kemejanya hingga siku. Bangku piano yang cukup besar untuk diduduki oleh dua orang membuat Evan memiringkan badannya menghadap Catherine, mengajak wanita itu duduk di sebelahnya.

Ia menepuk bangku itu pelan, "Kemarilah," panggilnya. Tanpa menolak, Catherine pun ikut duduk.

"Kamu mau aku memainkan lagu apa?"

MORE THAN YESTERDAY | DDEUNGROMICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang