"Kamu tidak akan menghubunginya?" Catherine memalingkan wajahnya dari buku yang sedang ia baca ke Alea yang duduk di sampingnya. Keduanya duduk bersantai di kursi sebuah taman sedangkan adik-adik mereka, Peter, dan beberapa lainnya bermain basket di lapangan tidak jauh dari mereka.
"Hmm? Evan?"
"Ya siapa lagi?"
"Dia pasti sibuk,"
"Lagipula— entahlah kak," Catherine menghela nafasnya. Ia bingung.
"He gave you his number, Cath. Dia pasti berharap kamu menghubunginya," kata Alea yang mencoba meyakinkan Catherine.
Ya, Evan meninggalkan secarik kertas yang ia selipkan dibawah ipad Catherine sebelum ia berjalan keluar pesawat. Catherine masih tertidur dan Evan harus segera pergi untuk mengejar waktu. Dan lagi ternyata banyak penggemar yang mengetahui jadwal penerbangannya dan menunggu di luar, membuat mereka segera keluar untuk menghindari ketidaknyamanan bagi penumpang lain. Evan hanya sempat meninggalkan itu pada Catherine.
"Didn't you say you guys were friends in middle school,"
"Dia ingin berjumpa dengan teman lamanya ini lagi," tambah Alea lagi. Catherine menghela nafasnya kembali karena Alea seperti menggebu dirinya mengenai Evan.
Kamu masih tertidur dan aku harus buru-buru. Aku tidak bisa menanyakan nomormu, but here's my number +82 11-15xx-xxx. I'm going back to Seoul this Thursday. Please call or message me, Mori. Don't runaway again. -Evan
Alea sedang menikmati kebab jumbonya dengan santai, sementara angin sepoi-sepoi berbisik lembut dari antara pepohonan rindang di sekitar. Menikmati momen bebas anaknya, karena Kyrie dan Kaiden di rumah bersama orangtua Alea. Acara pernikahan saudara mereka kemarin berjalan dengan meriah dan sangat kekeluargaan, walau sambil melawan rasa jet lag itu. Mereka berangkat dalam waktu yang sangat sempit kemarin, dan semuanya karena urusan pekerjaan yang tidak bisa dihindari. Memastikan semua dapat ditinggalkan dengan aman sebelum liburan panjang.
"Harus ku akui dia sangat tampan, Cath. Aku sempat memperhatikan tinggi badannya. Hmm, mungkin sekitar 185 cm, lebih tinggi sedikit dari Peter. Dia tinggi," kata Alea yang kembali mengambil satu gigitan penuh kebabnya. Sekilas Alea sempat memperhatikan interaksi Catherine dengan Evan saat di lounge kemarin. Catherine juga telah menceritakan singkat kepada Alea mengenai pertemuannya dengan Evan.
Besok pria itu akan kembali ke Seoul, sesuai yang ia tuliskan di kertas. Catherine hanya terdiam menikmati angin kencang yang menerpa wajahnya. Mengabaikan Alea yang telah mengalihkan wajahnya kepada Catherine, menyadari keheningan wanita itu sebagai balasan dari percakapannya sedari tadi.
Catherine selalu menyukai tantangan. Ia sering merasa kompetitif dan mempunyai rasa percaya diri yang baik. Tetapi ada kalanya ia menciut terhadap sesuatu, seperti saat ini.
I can't always be your strongest soldier, God. I'm sorry. Aku kabur.
"Rambutmu sudah sangat panjang," seolah mengerti, Alea mengganti topik percakapan. Ia menyisirkan jemarinya ke rambut Catherine dengan lembut dan berkata, "Bagaimana kalau kita potong rambut nanti. Sebelum lusa ke rumah nenek. Kalau sudah sepanjang ini biasanya sudah kamu potong pendek. Ini saatnya kita potong lagi, bukan?"
Catherine berpaling kepada Alea dan tersenyum, "Boleh!"
Alea tersenyum lembut, hatinya hangat melihat Catherine yang ia sayangi seperti adik kandungnya sendiri.
***
Bagi Catherine, tidak ada alasan spesifik mengenai kenapa hari ini ia seperti berdandan lebih ekstra. An Alaïa black leather pin-detail mini dress for a simple brunch today. Sebuah gaun yang hanya bisa didapatkan melalui reservasi di butik, dan ia memakainya untuk makan siang bersama sahabatnya saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
MORE THAN YESTERDAY | DDEUNGROMI
RomanceCatherine tidak menyangka ia akan bertemu kembali dengan Evan. Kali ini keduanya bukan lah anak SMP lagi. Catherine, seorang aktris yang menjadi sorotan karena kehebatan akting-nya yang sangat menjanjikan dalam dunia per film-an. Evan, seorang binta...
