PART 8

231 39 7
                                        

Rory sedang menikmati tteokbokki-nya ketika Catherine yang tidur berbaring di atas sofa seberangnya menghentakkan kepalanya berkali-kali di sofa empuk tersebut. Ia mengerutkan keningnya dan berkata, "Aku tahu kepalamu sudah tidak sakit lagi. Tapi bisakah kamu berhenti ingin menyakiti kepalamu, Cath."

Catherine sudah bercerita mengenai dirinya yang mengenal salah satu anggota grup itu—Evan—kepada Rory setelah kesepakatan kemarin. Bagaimana mereka dulu pernah satu sekolah—dan berteman, namun Catherine ragu menggunakan kata itu, dan bagaimana memorinya dulu di sekolah kurang menyenangkan. Tapi Catherine belum siap menceritakan dengan detail mengenai masa lalunya, dan Rory mengerti.

Kemudian, termasuk fakta bahwa kerumunan yang terjadi di bandara kemarin merupakan para penggemar grup Evan, membuat Rory memutar kedua matanya dan mendengus. Catherine berakhir menyetujui tawaran itu untuk membangun koneksi tentu saja. Siapa yang tidak ingin bekerja dengan Ramon Sander dan sutradara Woojin.

Namun, kenyataan bahwa wajahnya akan terpampang dalam film grup pria itu—walaupun mungkin tidak akan terlihat sangat jelas karena di bawah air, sebenarnya membuat dirinya sedikit takut. Menebak reaksi apa yang akan diberikan pria itu saat ia tahu atau sadar.

Aku tidak bermusuhan dengannya, bukan? Kenapa harus takut. Ya, ini hanya sebatas pekerjaan dan simbiosis mutualisme antara agensinya dan diriku. Bukan dengannya.
Aku butuh koneksi untuk karir ini dan lagipula kita tidak akan bertemu. Benar.

"Oke, aku selesai," Rory berdiri dari kursinya. Satu porsi mangkok tteokbokki itu sudah habis ia lahap. Mereka akan pergi sore ini ke acara yang dilaksanakan tim produksi, menyambut proses syuting yang akan dimulai besok.

Catherine berdiri merapikan rambutnya yang dibiarkan lurus saja. Kardigan rajut hitam ORSEUND IRIS membalut pinggangnya dengan pas, terlihat serasi dengan jeans biru tua, bando dan tas miu miu-nya. Perhiasan lucu berwarna emas dari anting, kalung dan gelang tangan juga menghiasi dirinya.

"Which one?"

"The black one's nicer," Rory menunjuk loafers hitam.

"Aku tiba-tiba sangat ngantuk, Rory," Catherine sudah menguap tiga kali dalam lima menit terakhir.

"I'll make sure we're already back at eight. Ayo!"

Catherine akan sibuk mulai besok dan ia memiliki waktu sekitar tiga minggu untuk mempersiapkan mentalnya sebelum melakukan adegan di bawah air itu.

***

"Tunggu, Rory. Aku sepertinya meninggalkan lipbalm-ku di taksi tadi," Catherine berjalan pelan sambil merogoh tas kecilnya.

"Astaga—"

"Hei, kamu tidak apa? Maafkan aku," Catherine berjongkok menolong perempuan mungil yang jatuh terduduk di hadapannya.

Anak perempuan berumur empat tahun itu menatap Catherine dengan polos. Ia sedang berlari tanpa memperhatikan jalannya dengan baik dan tidak sengaja menabrak Catherine yang juga tidak fokus melihat sekitarnya.

"Kamu hanya sendiri?" Anak kecil itu masih diam saja dan melihat ke arah belakangnya.  Matanya tampak sedikit sembab, seperti habis menangis.

"Cath, ada apa?" Rory menghampiri Catherine dengan bingung.

"Kami tidak sengaja saling menabrak tadi, tapi dia terlihat sendiri dan entah dimana walinya," balas Catherine, melihat suasana lobby yang sepi. Ia tidak yakin meninggalkan anak kecil itu sendiri karena anak itu pun hanya terdiam dan tidak meninggalkan dirinya juga. Membuat Catherine merasa bertanggung jawab.

"Masih ada 15 menit lagi, kan?" Rory membalasnya dengan anggukan. Catherine membawa anak itu ke sofa yang terletak di tengah lobby untuk duduk menunggu.

"Apa kamu tersesat? Kamu tahu siapa yang bisa dihubungi?"

"Mama dan papa kamu dimana?" Anak itu hanya diam dan menatapnya polos mendengar pertanyaan-pertanyaannya. Catherine menghela nafasnya pelan.

"Nama kamu siapa?" Pertanyaan itu sepertinya dapat anak itu mengerti dengan baik, mebuatnya berkata, "Le—Lee W—, Wo— Won-hee," dengan terbata-bata, berusaha mengucapkan namanya. Catherine tersenyum dan mengusap kepala anak itu lembut.

"Baiklah, Won-hee, kita akan menunggu di sini sampai wali atau penjagamu datang mencari." Rory mendengar itu hanya menurut sembari ikut duduk. Menilai dari penampilan anak itu—dan 5-star hotel yang mereka datangi ini, Catherine menyimpulkan ia berasal dari keluarga berada. Catherine merasa pasti akan ada yang datang mencarinya.

"Kamu mau?" Catherine mengulurkan sebuah lolipop yang ia temukan di tas. Won-hee berhenti menganyunkan kakinya lalu mengangguk. Mengambil lolipop itu dengan senyum di wajahnya.

"Kamu suka permen?" Won-hee mengangguk.

"Aku juga," Catherine tersenyum.

"E- es kri- krim ju- juga," Catherine mengangguk dan menyalahkan dirinya yang merasa sangat emosional sekarang. Anak itu sangat lucu di matanya.

"Baiklah, kalau kita bertemu lagi, aku janji akan membelikanmu es krim," balas Catherine membuat Won-hee menatapnya berbinar. Ia mengusap lembut kepala anak itu sesekali.

Sepuluh menit berlalu dan masih belum ada tanda-tanda keberadaan orang yang mencari Won-hee. Hanya tersisa beberapa menit lagi sebelum ia harus pergi.

"Nona Won-hee!" tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang sedikit berlari ke arah mereka, diikuti oleh seorang wanita muda lain di belakangnya.

Catherine dan Rory segera bangkit dari tempat duduk mereka. Menjelaskan bagaimana mereka bisa berakhir bersama Won-hee.

"Terima kasih banyak sudah menjaganya," kata wanita muda itu hangat. Catherine terpesona karena wanita itu sangat cantik.

Keduanya pamit namun Won-hee yang sedari tadi diam menghentikan Catherine dengan menarik lengan bajunya pelan.

"Te- terima kasih," Catherine tersenyum lebar menatap Won-hee, tidak menyadari dua wanita di depannya yang terperangah dengan interaksi itu.

"Tunggu," kali ini wanita muda itu yang menahan Rory dan Catherine yang sudah melangkah ingin pergi.

"Oh itu Evan," Ia mengarahkan pandangannya kepada seseorang di belakang Catherine.

Senyum di wajah Catherine seketika menghilang.

Rory membulatkan matanya setelah mengikuti arah pandang wanita di sebelahnya itu. Ia sudah mengenali wajah Evan dan tahu betapa Catherine ingin menghindari pria itu.

Melihat Evan yang berjalan ke arah mereka, Rory berkata, "Maaf, tapi kami benar-benar sudah terlambat. Kami pamit dulu. Mari," lalu menarik tangan Catherine dan berjalan cepat menuju lift.

Melihat reaksi Rory, Catherine langsung mengerti.

Mereka tidak menyia-nyiakan lift kosong yang terbuka, langsung memasukinya dan menutupnya. Letak lift itu berseberangan dengan Evan yang kini sudah menghampiri wanita tadi.

"Kamu sudah bisa membalikkan tubuhmu, Cath," kata Rory melihat wanita itu masih berdiri kaku membelakangi pintu lift, terlihat aneh. Mereka berdua terdiam.

"He's so damn handsome, Cath."

Pernyataan yang sama sekali tidak membantu menenangkan debaran jantung Catherine.

MORE THAN YESTERDAY | DDEUNGROMICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang