PART 38

328 36 25
                                        

Hembusan nafas terengah terdengar pelan akibat terkejut. Catherine merasakan lehernya sedikit berkeringat, seolah tubuh fisik aslinya benar-benar dibawa ikut berlari seperti dalam mimpi buruknya. Ia bangkit duduk dan tatapannya berakhir menjadi lamunan sejenak.

Ia bahkan tidak dapat mengingat kapan terkahir kali ia mendapatkan mimpi buruk. Hal itu termasuk jarang baginya.

"Tumben," gumam Catherine menikmati apelnya dan kini memandang hujan dan tumpukan salju yang cukup tebal melalui jendela ruang tengahnya. Menandakan hujan salju telah berlangsung lama sejak semalaman.

HP yang berdering mengalihkan fokusnya. Panggilan dari Rory. Manajernya itu akan berangkat ke Aspen besok untuk liburan natal.

"Hari ini film kamu rilis, Cath. I know it's gonna be a bigger start for you onwards. I can feel it in my bones," kata Rory pada Catherine yang masih dengan apelnya sambil melihat keluar jendela.

"Komentar para kritikus dan pengulas film rata-rata positif. Rachel dan timnya juga melakukan research mereka di sosial media, respon mengenai dirimu dari publik sangat baik dan banyak yang menantikan."

"Oh ya?"

Catherine berjalan menyusuri rak kayu ruang tengahnya. Tertegun sesaat, menatap bingkai fotonya bersama Dal-rae. Kakaknya. Motivasi terbesar Catherine dalam pekerjaannya.

"Bahkan termasuk para penggemar Evan."

Perhatian Catherine seketika buyar mendengar Rory tiba-tiba membawa nama Evan.

"Lucunya aku menemukan komentar yang mengatakan kalian berdua terlihat hot bersama, you know, adegan kalian di film pendeknya." Rory terkekeh, sengaja menggoda.

Perkataan itu membuat Catherine terbatuk karena hampir saja tersedak apelnya.

"Cath?"

"Aku tidak apa. Tidak adakah hal penting lain yang ingin kamu beritahu, Rory?"

"Santai, Catherine."

"By the way, kamu yakin tidak mau ikut denganku ke Aspen? We can go after your check-up appointment tomorrow." Rory merasa prihatin mengingat Catherine akan merayakan natal tanpa keluarganya tahun ini karena tanggal 27 kedepan ia masih ada jadwal pekerjaan. Juga dibanding dengan kelelahan 20 jam-an perjalanan dari New York ke Jakarta, penerbangan langsung menuju Aspen setidaknya hanya sekitar 6 jam saja.

"Just skiing and relax until Christmas."

"It's really fine, Rory. Lagipula aku sudah janji menonton pertunjukan musikal temanku lusa. And maybe a little trip to Boston with them too."

"Baiklah."

***

Malamnya, Catherine memiliki janji temu dengan salah seorang rekan sutradara film independen. The Heritage Bar adalah salah satu restoran ekslusif di New York yang hanya bisa didatangi dengan reservasi saja, menjadikannya langganan para artis dan kalangan atas lainnya karena mendapat akses spesial. Reservasi bagi pengunjung awam sanggup memakan waktu 30 hari sebelum.

Sembari menunggu rekannya datang, Catherine pergi ke toilet dan sekembalinya, matanya menangkap seseorang yang ia kenal baik di salah satu meja, duduk bersama suaminya. Senyum di wajah wanita itu merekah lebar, menyadari Catherine yang menghampiri.

"I really liked the movie. You acted really really great," kata jurnalis senior Vogue itu, Sophie, yang juga menyempatkan diri datang ke premiere film kemarin. Ia lebih tua 12 tahun dari Catherine, berumur 36 tahun lebih tepatnya.

MORE THAN YESTERDAY | DDEUNGROMICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang