Bel istirahat kedua sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, tetapi Aileen masih saja duduk di bangku kelasnya sambil memegangi perut, wajah itu terlihat meringis kesakitan. Keringat dingin perlahan menetes dari dahinya, gadis itu menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya di meja.
Tiba tiba saja terdengar suara rusuh dari pintu kelas, Keisha datang sambil membawa roti, air minum dan juga obat, gadis itu menghampiri Aileen dengan wajah paniknya. "Bangun dulu, nih gue beliin roti sama obat juga, gue ngeri lo pingsan." ujar Keisha sambil menepuk nepuk pundak Aileen pelan.
"Gue nggak laper, Kei." gumam Aileen pelan.
Keisha duduk di samping Aileen, gadis itu terlihat kesal sekaligus khawatir. "Gue curiga maag lo kumat, udah lo makan dulu aja rotinya meskipun nggak laper, siapa tau sakitnya berkurang, Ai."
Aileen menegakan badannya, dia menatap Keisha dengan raut muka yang sulit ditebak. Gadis itu bangkit dari duduknya, tangannya mengambil roti dan juga air minum yang sudah dibelikan Keisha barusan.
"Lo mau kemana? Ayo gue anter, jangan nyelonong sendirian." ucap Keisha cepat sebelum gadis itu melangkahkan kakinya.
Aileen menoleh, "Gue mau ke uks, lo ke kantin aja, gue tau lo belum makan tadi."
"Tapi kan-"
"Gue mau sendirian aja." saut Aileen memotong ucapan Keisha, gadis itu tidak mau Keisha menemaninya karena dia tau temannya itu belum sarapan sejak tadi pagi. Setelah mengatakan itu, Aileen berjalan menuju UKS sendirian.
Mau tidak mau Keisha menuruti perkataan Aileen, dia tau betul Aileen pasti tidak suka jika dirinya memaksakan diri untuk ikut, lagipula sedari tadi perutnya keroncongan minta diisi.
Keisha berjalan menuju kantin, matanya melihat ke penjuru kantin yang sudah ramai. Gadis itu menghela nafas pelan, malas mengantri.
"KEISHA!"
Mendengar seseorang meneriaki namanya, membuat Keisha yang sedari tadi melihat stand somay kesukaannya pun mengalihkan pandangannya. Di sana, Aber melambaikan tangannya dengan semangat. Gadis itu memilih untuk tidak menghiraukannya, gadis itu melanjutkan langkahnya.
"KEI!"
Lagi, Aber memanggilnya lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya, yang membuat beberapa anak anak yang sedang berada di kantin melihat ke arahnya.
Keisha menatap Aber galak, sedangkan Aber menunjuk Raden dengan antusias. "Nih, katanya Raden micu so bet, Kei!" seru Aber, sedangkan Raden yang dituduh pun hanya menatap Aber malas.
Alendra yang sedari tadi celingukan mencari keberadaan pacarnya pun bingung karena tidak menemukannya, biasanya kan gadisnya itu bersama Keisha.
'Ai dimana ya?'
Alendra memakan bakso terakhirnya, kemudian laki-laki itu bangkit dari duduknya, dia akan menghampiri Keisha untuk menanyakan keberadaan gadisnya.
"Eh Len, mau kemana lo?" tanya Cio.
"Mau cari ayangbeb lah, emangnya lo? Jomblo!" saut Aber meledek.
"Ngaca bego, emang lo punya pacar?" balas Cio tidak terima.
Aber mengusap rambutnya ke belakang, dia menunjukan wajah songongnya pada Cio. "Menurut lo cowok seganteng gue ini masih jomblo?"
"Najis!" ucap Raden bergidik ngeri.
"Cewek mah nyarinya yang waras, yang gila kayak lo ini pasti diskip!"
Alendra menepuk dahi Aber, bibir laki-laki itu terlihat seperti sedang komat-kamit. "Lo kayaknya harus diruqyah setiap hari, Ber."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ailendra
Teen Fiction"Lendra, Ibu tanya sekali lagi ya? Cita-cita kamu kalo udah besar nanti apa?" "Nikah sama Aileen, Bu." "Alendra, Ibu serius." "Tapi kata Poya, Ale cuma boleh seriusin Ai, Bu." "..." ~12 Tahun Kemudian~ "Alendra Arkhana Mahatma! Kerjaanmu berantem t...
