7. SIMPANAN DOSPEM

20.9K 413 230
                                        

"Ini rumah kamu, Mas?!!" pertanyaan itu dan itu terus keluar dari mulut Pharita setelah ia sampai di mansion besar bergaya klasik di pinggir danau.

Sepatu merahnya menyelusuri kamar besar yang mungkin tujuh kali lipat besarnya dari rumahnya di kampung. Seperti di kerajaan saja, batin Pharita.

Pharita melihat keluar balkon, di sana terlihat danau sepertinya buatan. Tetapi sangat indah, Pharita rasa tidak keluar setahun pun dari mansion ini tidak akan bosan saking besar dan indahnya.

Damian yang duduk di pinggir kasur hanya memperhatikan Pharita yang daritadi sibuk mondar-mandir melihat sekeliling.

"Kamu suka?" tanya Damian membuat Pharita berbalik dan mengangguk cepat.

"Bagus banget!"

"Setelah selesai kuliah kamu bisa tinggal disini." ujar Damian mengejutkan Pharita.

Pharita terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun. Perempuan itu memilih memandang keluar melihat pemandangan yang hijau menyegarkan matanya.

"Saya akan pergi hingga malam, kalau ada apa-apa kamu bisa telpon." ujar Damian, pria itu mendekati Pharita untuk memeluknya.

Pharita mendongak dan mengangguk patuh. Tidak menyangka Damian sekaya ini.

"Tunggu saya disini." ujar Damian mencium dahi dan bibir Pharita sebelum pergi dari kamar meninggalkan Pharita seorang diri.

Setelah kepergian Damian, Pharita mengeluarkan ponselnya dari dalam saku rok. Ia ingin memotret sekitarnya dan mempostingnya di Instagram.

Setelah puas mendapatkan foto yang menurutnya estetik. Pharita keluar dari kamar ingin melihat sekitar mansion besar ini, sepatu merahnya menyelusuri koridor. Bahkan dinding rumah ini berukir indah.

Hingga kakinya membawanya ke sebuah ruang utama yang tadi ia lewati. Pharita mengedarkan pandangannya dan melangkah lagi ingin melihat luar, di pinggir pagar pembatas dengan taman. Pharita berdiri melihat dengan jelas hamparan bunga yang terawat indah disana.

"Ini gila." gumam Pharita, ia menepuk-nepuk pipinya tidak percaya ia bisa melihat pemandangan seindah ini.

Pharita memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya lagi. Ia tidak sedang bermimpi, ini benar-benar tempat tinggal Damian.

"Orang seperti Damian." batin Pharita merasa malu pada dirinya sendiri.

"Selamat sore Nyonya, Tuan Damian bilang menu makan malam ini Nyonya yang tentukan." ujar seseorang membuyarkan lamunan Pharita.

Pharita berbalik melihat seorang wanita muda yang menunggu jawabannya, dari pakaiannya sepertinya wanita ini pelayan.

"Huh, apa tadi?" tanya Pharita kurang jelas. "Maaf tadi aku kurang denger."

"Tuan Damian bilang menu makan malam ini Nyonya yang tentukan." ulang pelayan itu.

"Biasanya kalian menghidangkan apa untuk makan malam?" Pharita bertanya balik karena tidak kepikiran menu makan malam. "Hidangkan itu aja."

"Baik Nyonya." Pelayan itu hendak pergi namun Pharita menahannya. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"

"Siapa nama kamu?" tanya Pharita dengan senyuman hangat tersungging di bibirnya.

Pelayan itu mengerjapkan matanya berkali-kali tersihir dengan senyuman itu, sangat manis hingga bibirnya ikut menyunggingkan senyum membalas senyuman sang Nyonya.

"Lidia." jawab pelayan itu.

"Lidia?" ulang Pharita kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku boleh nanya sesuatu ke kamu?"

Simpanan DospemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang