6. SIMPANAN DOSPEM

23.6K 409 24
                                        

Pagi ini Pharita sudah rapi dengan outfit ngampusnya. Perempuan itu sedang duduk di sofa mengenakan kaos kaki dan sepatu putih dari brand terkenal. Rambutnya yang di curly cantik dan poni tipis yang menutupi dahinya itu membuatnya semakin mempesona.

Hari ini Pharita menggunakan celana kulot jeans hitam dan kaos berkerah berwarna merah muda sebatas lengannya. Pharita meraih tote bag-nya. Hari ini ia ke kampus dengan sopir, mobil barunya sudah tiba tadi pagi.

Pharita menoleh pada Damian yang duduk di seberang sofa-nya. Pria itu sedang fokus melihat tablet membuat Pharita yang hendak mengajaknya berbicara urung melakukannya.

Tiga jam yang lalu Damian sudah datang ke apartemennya, pria itu selalu menepati janji. Sudut bibir Pharita tertarik membuat senyuman tulus melihat Damian yang selalu meyakinkannya jika pria itu benar-benar mencintainya.

"Saya akan dinas keluar kota." ujar Damian membuyarkan lamunan Pharita. "Tiga hari."

"Mendadak, ya?" tanya Pharita. "Kapan perginya?"

"Nanti sore, saya sudah membuatkan surat ijin untuk kamu selama tiga hari. Jadi, siapkan diri untuk ikut bersama saya."

"Huh?" retina mata Pharita membesar. "Aku boleh ikut?"

Damian mengangguk dengan fokusnya yang masih pada tablet. "Saya tidak bisa berhari-hari tanpa kamu."

"Memangnya ngga papa?" tanya Pharita khawatir. Ia sangat takut hubungan mereka ketahuan.

"Jangan memikirkan apapun selain memikirkan saya, tentang hubungan kita biarkan saya yang ambil kendalinya." Damian menatap Pharita dari balik kacamata radiasinya.

Pharita mengangguk patuh. Ia menatap pria didepannya itu cukup lama, selama beberapa tahun mengenal Damian. Pharita bahkan tidak tau kehidupan Damian seperti apa selain Damian yang selalu datang ke apartemennya dan memperlakukannya seperti tuan putri.

Pharita tidak tau kehidupan keluarga Damian dan apa-apa saja bisnis yang dijalankannya. Damian sangat tertutup dan Pharita merasa tidak pantas untuk menanyakan hal tersebut.

Damian mematikan tabletnya, ia beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya pada Pharita hendak meraih tangan mungil perempuan kesayangannya.

"Ayo ke kampus." ujarnya diangguki Pharita.

Pharita meraih tote bag-nya dan melangkah bersama Damian yang mengenakan setelan kerja rapi yaitu kemeja biru tua dan celana bahan hitam dan sepatu pantofel mengkilap.

Terkadang Pharita bingung, sekaya apa Damian sebenarnya. Pharita sudah sering belanja barang-barang mahal yang bahkan hingga tidak masuk akal, sebulan saja Pharita bisa menghabiskan uang Damian dalam jumlah tidak sedikit. Tetapi, pria itu seakan tidak peduli dan selalu mentransfer uang yang lebih banyak dari yang Pharita kira.

Menjadi dirut dan dosen tentu saja tidak bisa membuat Pharita se foya-foya ini. Namun, apapun itu, Pharita tidak seharusnya memperdulikan itu, tugasnya hanya melayani Damian dan berbelanja barang mahal.

🍑🍑🍑

Didalam kelas, seperti biasa Pharita mengirim foto dirinya sendiri pada Damian sebagai laporan harian jika ia sedang di kampus. Perempuan cantik dengan gelang berlian tipis yang melingkar di lengan kirinya itu tersenyum kecil dan mengetik sesuatu di layar ponselnya membalas pesan Damian.

"Mobil baru lagi, nih!" celetuk Kia membuat senyuman di bibir Pharita lenyap.

Twila yang sedang men-scroll beranda Instagram-nya menoleh. Benar juga kata Kia, Pharita lagi-lagi mobil baru. Sahabatnya itu kerap sekali berganti-ganti mobil.

Simpanan DospemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang