23. Simpanan Dospem

9.3K 385 51
                                        

Damian akhirnya memalingkan wajah, kembali fokus pada pria paruh baya di hadapannya—yang ternyata Bokuto, ayah Shera. Namisadora ikut berdiri anggun di samping, menyisipkan senyum tipis khas perempuan dari keluarga terpandang.

Pharita, yang sedari tadi berdiri tenang, melirik mereka sekilas lalu kembali duduk. Gerakannya tidak terburu-buru. Ia menurunkan tubuhnya ke sofa seperti seorang tamu penting yang tahu persis bagaimana bersikap di tempat elite semacam ini.

Tak ada satu pun ekspresi panik di wajahnya. Bahkan senyumnya masih terbingkai manis, tenang, dan nyaris tidak terganggu. Padahal barusan ia baru saja dihadapkan langsung dengan istri dari pria yang diam-diam menaruh perhatian padanya.

Bukan hanya Shera—tapi juga Damian, dan dua mertua kelas atas itu.

Pharita merapikan ujung roknya sedikit, lalu mengeluarkan lip balm dari tas kecilnya. Ia memulaskannya perlahan, tanpa terburu-buru, seolah kejadian tadi hanya sebatas angin lalu.

Di balik kaca besar di belakang lobi, bayangan dirinya terpantul, heels hitam, rok mini yang membingkai kaki jenjang, kaos polo putih yang bersih dan mahal, rambut tergerai lembut, dan wajah—yang meski tanpa makeup berat—tetap memesona seperti boneka manusia.

"Ta!" suara Twila datang dari belakang, ceria seperti biasa.

Pharita menoleh. Senyumnya manis, nyaris terlalu sempurna.

"Sorry ya, lama banget—kakak gue sempat nanya-nanya hal random." ucapnya cepat sambil menghampiri. Twila duduk disamping Pharita dengan nafas yang sedikit tidak teratur akibat berlari kecil.

Twila menatap Pharita lama, lalu menyender manja di bahu sahabatnya itu. "Sumpah deh, kadang gue mikir lo tuh pantesnya jadi idol k-pop, bukan anak kuliahan." Ia terkekeh sendiri. "Cantik, tenang, nggak banyak drama, dan vibes-nya tuh mahal banget."

Pharita menanggapi dengan senyum kecil. "Apaan sih, Wil. Engga ya, gue ngga secantik itu!"

"Gila, lo tuh cakep banget Ta, tapi nggak kayak cewek-cewek yang suka nge-blast dirinya. Lo tuh kalem banget. Saking kalemnya, kayak istri orang kaya yang beneran."

Pharita hanya tertawa kecil, meskipun dalam hatinya ada yang menegang.
Karena kenyataannya dia memang istri orang. Hanya saja, bukan di atas kertas.

Dan orang itu masih berdiri beberapa meter di belakang mereka, diam-diam mengamati dari kejauhan— Damian.

"Yuk pulang!" Twila berdiri diikuti Pharita.

Keduanya kini melangkah bersama keluar dari lobi dengan Damian yang terus mengawasi. Kemudian melirik Shera yang berdiri disampingnya. Tak lama, ke-empatnya duduk di sofa ruangan tertutup jauh dari lobi untuk membicarakan intri pertemuan mereka.

Damian duduk dengan santai namun terjaga, satu tangan di atas lutut, map dokumen sudah terbuka di hadapannya. Bokuto baru tiba, duduk di seberangnya sambil menyesap kopi.

"Jadi, kau belum beri keputusan untuk Serene City?" tanya Bokuto tanpa basa-basi, nada suaranya sedikit menekan.

Damian tersenyum tipis. "Belum. Karena saya baru dapat data subsidi silang dan keterlibatan pihak ketiga dua hari lalu. Terlalu banyak perantara di proyek ini."

"Itu biasa." Bokuto menyilangkan tangan.
"Politik tidak jalan kalau semua serba bersih."

Damian menutup mapnya perlahan, lalu menatap langsung ke mata mertuanya.
"Saya tidak sedang bicara soal kebersihan, tapi efektivitas. Anda tahu siapa yang akan disalahkan duluan kalau ada kebocoran dana?"

Bokuto mengerutkan kening, tapi belum bicara. Damian melanjutkan.

"Saya. Bukan Anda, bukan Shera, bukan komisaris yang Anda masukkan diam-diam ke dalam struktur proyek."

Simpanan DospemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang