Dibawah langit yang gelap dengan gugusan bintang. Pharita duduk didalam mobilnya, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk setir melihat interaksi Bara dan Shae yang duduk di taman sembari bermain catur.
Pharita menopang dagunya, ia memperhatikan Shae yang terlihat sangat senang berbanding terbalik dengan Bara yang beberapa kali terpergok Pharita menoleh kearahnya.
"Dua kali pertemuan." gumam Pharita, jika dilihat dari respon Shae sepertinya cewek itu akan over sharing pada Bara jika pertemuan pertama berhasil.
Dua jam menunggu akhirnya Pharita memilih untuk menghidupkan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas seraya memutar setir. Pharita sudah mengirim pesan pada Bara agar menemuinya di sebuah kedai kopi.
Bara yang baru saja melihat pesan Pharita tersenyum tipis. Ia menatap Shae yang masih bercerita panjang lebar tentang segala hal. Bara tidak benar-benar mendengarkannya, fokusnya sering tertuju pada Pharita yang berada didalam mobil.
"Skak." ujar Bara setelah memajukan kuda-nya. Cowok bergingsul itu tersenyum pada Shae. "Lain kali kita main lagi, ya?"
"Se-serius?!" seru Shae terkejut. Ia mengerjapkan matanya tidak percaya jika Bara ingin bermain lagi dengannya.
"Gue mau ajarin lo cara main catur," Bara terkekeh kecil. "Gue bakal chat lo lagi, luangin waktu lo, ya?"
Bara bergegas berdiri dan meraih tasnya. "Makasih udah mau nemenin gue main catur, gue cabut duluan."
"I-iya," Shae bahkan hingga mematung dengan jantungnya yang berdegup kencang.
Cewek itu tersenyum lebar, ia memekik pelan seraya memandangi punggung Bara hingga cowok itu masuk kedalam mobil. Sudah sangat lama Shae memendam rasa pada Bara, karena Shae tau selera Bara secantik Pharita, Shae merasa tidak akan terlirik.
Tapi malam ini, entah keajaiban darimana tiba-tiba Bara langsung mengirim pesan di WhatsApp-nya dan mengajak bertemu. Tanpa curiga, Shae merasa Tuhan berpihak padanya.
Shae mengeluarkan ponselnya dan memotret papan catur tadi, ia ingin mengenang awal permainan mereka.
🍑🍑🍑
"APA?!!" seru Bara melotot sempurna hingga beberapa orang menoleh kearahnya.
"Iya Bar, tolongin gue ya, please sekali ini aja." ucap Pharita menyatukan kedua tangannya didepan muka memohon pada Bara. "Pacaran sama Shae sebulan aja, kalo ngga sanggup seminggu aja deh gass!"
"Lo mau ngapain sih Ta sebenernya?" tanya Bara bingung dengan rencana Pharita. "Mainin perasaan orang ngga bagus, Ta. Lo ngerti kan?"
"Iya...,"
"Gue suka sama lo, gue ngga mau pacaran sama Shae, gue maunya pacaran sama lo! Kalau bisa gue nikahin lo besok, itu mau gue!" ucap Bara terdengar benar-benar serius membuat Pharita tertunduk lesu.
"Serius ni lo ngga mau bantuin gue?" Pharita kembali memasang wajah paling nelangsa-nya, sangat menggemaskan hingga Bara tidak tega menolak.
Tetapi meskipun begitu, Bara manusia logis. Tentu saja otaknya menolak, resiko dari mempermainkan perasaan Shae begitu besar apalagi dampak mental yang diterima Shae. Bara tidak ingin menyakiti siapapun apalagi Pharita.
"Tolongin gue ya, Bar?" pinta Pharita lagi terus merayu Bara.
Bara menghela nafas. "Dia ada ngapa-ngapain lo juga?"
"Cuma lo yang bisa nolongin gue sekarang," ujar Pharita membuat Bara tidak bisa menolak, Pharita tau caranya melemahkan sisi logis laki-laki.
"Makasih ya, Bar." Pharita tersenyum manis sangat cantik hingga Bara tanpa sadar ikut tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomanceUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
