Pharita terpaku beberapa detik setelah menutup telepon, napasnya patah-patah, mual yang baru mereda seperti kembali hendak naik lagi. Tapi kali ini bukan karena tubuh—melainkan panik. Sial. Damian ada di bawah. Sekarang.
Ia bergegas masuk kamar, hampir jatuh ketika kakinya tersandung ujung karpet. Tangannya meraih apa saja yang bisa dipakai—kemeja tipis satin, rok hitam yang belum disetrika. Rambutnya ia sisir pakai jari, berkali-kali, hingga kulit kepalanya sendiri perih.
“Please… jangan keliatan aneh,” gumamnya pada bayangannya sendiri di cermin. Wajahnya pucat. Mata sedikit memerah. Ia tepuk-tepuk pipi. “Ayo. Ayooo…”
Tapi garis tipis air mata yang mengering masih tampak jelas. Dan mual yang tadi menusuk masih menyisa samar seperti gelombang kecil di perutnya.
Bara muncul lagi dalam pikirannya. Kata-katanya. Nada suaranya. Pandangan merendahkan itu.
Harga diri lo berapa?
Pharita memejamkan mata kuat-kuat. Lidahnya getir. Tangannya bergetar saat ia meraih lip tint dan memulasnya asal, menabrak garis bibir yang belum stabil. Napasnya tercekat antara marah dan malu.
“Dia bukan siapa-siapa…” bisiknya dengan suara yang terdengar lebih seperti pembelaan untuk dirinya sendiri. “Dia nggak tau apa-apa… dia nggak berhak… dia bukan siapa-siapa.”
Tapi kata-kata itu tidak mengobati apa pun.
Karena yang ia lawan bukan Bara.
Yang ia lawan adalah perasaan bahwa ia mungkin—mungkin—benar-benar sedang berjalan di jalur yang membuat orang bebas menilai tubuh dan harga dirinya.
Ponselnya bergetar lagi. Damian.
“Sayang, kamu lama?”
Pharita menghirup napas panjang, menahan sisa mual yang masih berputar di tenggorokan. “Aku turun sekarang.”
Begitu panggilan berakhir, ia menatap dirinya sekali lagi di cermin. Wajah cantik, rapi, sedikit pucat… tapi cukup. Cukup untuk menutupi fakta bahwa sepuluh menit lalu ia hampir roboh di lantai kamar mandi.
Ia meraih tas kecil, memaksakan diri berdiri tegak, lalu membuka pintu apartemennya.
Koridor luar terasa berputar sepersekian detik—entah karena pusing atau karena kenyataan bahwa setelah semua omongan hari ini, setelah mual yang tiba-tiba dan air mata yang ia sembunyikan, ia tetap memilih turun ke bawah. Tetap memilih Damian.
Pharita menarik napas pelan.
Dan melangkah ke lift.
Tak peduli betapa rapuhnya ia saat itu, ia tetap harus terlihat baik. Untuk Damian. Untuk hubungan yang bahkan dirinya sendiri belum berani definisikan dengan jujur.
Lift berdenting.
Pintu terbuka.
Dan Pharita melangkah masuk—dengan sisa mual di perut, sisa luka di hati, dan rahasia besar yang baru mulai tumbuh diam-diam dalam tubuhnya.
🍑🍑🍑
Di tengah keheningan malam, taman bunga itu berkilau lembut di bawah sinar bulan. Bunga-bunga yang belum mekar sepenuhnya tampak seperti permata kecil yang bersembunyi, memancarkan aroma manis yang terbawa angin. Udara di sekitar mereka tenang, hangat, dan terlalu indah untuk dibiarkan lewat begitu saja.
Pharita berjongkok pelan, ujung jarinya menyentuh kelopak bunga yang masih kuncup. Ia mengendus-endus, wajahnya memucat manis karena aroma yang memenuhi inderanya. “Manis banget…” katanya sambil memetik satu bunga dengan santai, meskipun papan larangan terpampang jelas beberapa langkah di depannya. “Sayang banget kita datangnya udah malam, jadi nggak liat mereka mekar.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomansaUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
