20. Simpanan Dospem

10.5K 347 70
                                        

"AAAAaaaaaa!!!!!!!" teriaknya, suaranya terbawa oleh angin dan gemuruh bersama dengan suara ombak yang menghantam pantai.

Rambutnya yang tergerai bebas bergerak tertiup angin sore dengan langit yang sudah mulai memperlihatkan bintang. Tentu saja teriakannya tadi membuat beberapa pengunjung pantai menoleh kearahnya. Tapi, Pharita tidak peduli.

Sementara Bara duduk di pasir berselonjor santai seakan teriakan Pharita tidak terdengar. Cowok bergingsul itu menikmati angin segar pantai.

"Gue harus gimana, Bar?!" rengek Pharita. Pharita berjongkok dengan menyembunyikan wajahnya di lutut. Ia memeluk kakinya sendiri merasa sudah lelah padahal belum bertempur.

"Gue ngga tau Ta." jawab Bara jujur. "Masalah lo apa coba?"

"Gue juga gatauu..." keluh Pharita.

"Pinter." Bara geleng-geleng kepala heran.

Pharita tertawa geli melihat respon Bara. Perempuan cantik itu menyengka rambutnya yang melayang-layang tertiup angin. "Lo secinta apa sama gue Bar?"

Bara melirik Pharita yang kini duduk di sebelahnya, masih memeluk lutut seperti anak kecil yang kehilangan arah. Angin pantai memainkan ujung rambutnya yang halus, dan langit sore perlahan berubah warna.

"Kalau cewe yang lo suka udah bekas cowo lain lo masih mau ga Bar?" tanya Pharita menatap Bara dengan binar matanya yang sayu.

Tentu saja pertanyaan Pharita membuat Bara langsung berpikir lain. Tapi menanyakan hal itu tentu saja memperburuk keadaan Pharita yang terlihat lesu. "Gue juga ngga tau Ta, ga kepikiran." jawabnya singkat, di hatinya mulai marah namun kepalanya masih di kendalikan akal sehat.

"Bukan gue, ya. Gue cuma nanya." ucap Pharita membuat hati Bara sedikit lega.

"Lo makin cantik aja Ta." puji Bara tidak mengalihkan pandangan dari sang pujaan hatinya.

Pharita menahan senyumnya yang ingin mengembang manis. "Hubungan lo sama Shae gimana?"

"Jujur aja nih Ta, gue ngga suka sama dia, mau kaya gimana pun sikap dan perhatian dia, gue tetep ga bisa maksain hati gue buat suka, yang ada malah kasian." Bara menghela nafas. "Lo ngapain sih jomblongin gue ke dia?"

"Ya... karena dia udah terkenal banget suka sama lo." ucap Pharita tersenyum canggung. "Kalian berdua juga keliatan setara."

"Aneh lo!" Bara menggeleng kecil. "Coba lo aja yang coba suka sama gue, kita juga setara ga?"

Setara?... Pharita sempat terdiam lama sebelum mengangguk pelan. Ia dan Bara tidak setara, Pharita hanyalah gadis miskin dari desa yang menjadi simpanan sang dosen kaya raya. Hidupnya di sulap hingga sempurna oleh Damian.

Apa Bara akan tetap mencintainya seperti Damian jika melihatnya di masa lalu? Pharita meragukannya.

"Kalau misalnya cewe yang lo suka itu dibawah lo gimana, Bar?"

"Ya gue bawa setara sama gue lah!" jawab Bara tegas.

"Beruntung banget yang jadi cewe lo nanti."
ujar Pharita seraya terkekeh.

"Iya, lo harus bersyukur dapat cowo kaya gue di masa depan." balas Bara.

Pharita memutar bola matanya. "Mulai!"

"Apa sih susahnya jadi cewe gue?"

"Diem ah, ngga mau bahas giniin." Pharita memanyunkan bibirnya membuat Bara terpana dengan raut wajah imutnya.

"Mau jajan ngga?"

"Apa?"

"Apa aja lo mau apa?"

"Apa ya..." Pharita menggaruk punggung tangannya sendiri seraya berpikir. "Terserah lo aja deh Bar, gue ngikut."

Simpanan DospemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang